Kebenaran Bagi Dunia

Dua Ekpresi Pujian

Pendahuluan

Kebaktian Kristen adalah kebaktian yang ekspresif, bukan kebaktian yang kaku. Berbicara tentang ekspresi, ini sangat berhubungan dengan ‘elemen-elemen kebaktian.’ Ada lima elemen sakral dalam kebaktian, yaitu nyanyian, doa, perjamuan Tuhan, persembahan, dan mendengarkan firman Tuhan. Dua dari lima elemen ini adalah pujian, yakni nyanyian dan doa.

Mengapa nyanyian dan doa dikatakan sebagai ekspresi pujian? Karena melalui nyanyian kita dapat mengekspresikan (mengungkapkan) pujian kepada Allah (Mazmur 149:1), dan menghiburkan satu sama lain, dan melalui doa kita dapat mengekspresikan ucapan syukur dan permohonan kepada Allah (Ibrani 13:15; 1 Tesalonika 5:18).

Nyanyian dan doa merupakan dua elemen ekpresif yang sama pentingnya dengan tiga elemen lainnya dalam kebaktian Kristen. Disamping bersifat ekspresif, nyanyian dan doa juga bersifat imperative (perintah). Dengan kata lain, elemen nyanyian dan doa adalah “perintah” yang harus dijalankan oleh umat Allah saat menyembahNya.

Allah telah melembagakan nyanyian sebagai ekpresi pujian kepadaNya, juga manfaat penghiburan (Efesus 5:19), dan doa sebagai sarana komunikasi dan permohonan bagi orang Kristen (I Tesalonika 5:17). Kedua ekspresi ini melibatkan emosional dan intelektual kita. Hal ini sangat jelas dikatakan Paulus kepada jemaat di Korintus, “…Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” (1 Korintus 14:15).

Untuk lebih dalam membicarakan mengenai pujian dan doa dalam kebaktian, baiklah kita bersama-sama memusatkan perhatian pada pembahasan berikut ini.

Berbakti Dengan Nyanyian

Ada prinsip-prinsip Alkitabiah yang harus diketahui oleh setiap orang Kristen tentang nyanyian atau bernyanyi. Dengan mengetahui prinsip-prinsip ini, maka ketika bernyanyi di dalam kebaktian kita dapat bernyanyi dengan baik dan sebagai puji-pujian yang berkenan kepada Allah.

Menyanyi Adalah Perintah

Berbicara tentang perintah Allah dalam Alkitab, kita dapat menemukan ada yang bersifat langsung dan ada yang tidak langsung.

Perintah yang tidak langsung terdiri dari beberapa kategori. Pertama, tersirat. Yang dimaksud dengan tersirat adalah “dari sisi lain sebuah perintah khusus dapat diambil sebuah pengertian yang bersifat kontras dengan perintah khusus tersebut.” Contohnya, Allah hanya memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera dari kayu gofir dan dengan ukuran 30 hasta panjang x 50 hasta lebar x 30 hasta tinggi (Kejadian 6:15) – perintah langsung. Di dalam perintah langsung ini Nuh tidak diperintahkan oleh Allah untuk menggunakan jenis kayu lain dan ukuran lain untuk bahtera tersebut – tersirat. Kedua, contoh. Kita bisa melihat hal ini dalam Kisah Rasul 20:6, 7, orang Kristen termasuk Paulus mengadakan Perjamuan Tuhan pada hari pertama dalam minggu itu (hari Minggu). Contoh ini menunjukkan otoritas Allah atas “waktu” pelaksanaan Perjamuan Tuhan, yaitu pada hari pertama dalam minggu itu.

Perintah langsung adalah perintah yang diberikan Allah secara spesifik yang harus dilaksanakan secara sempurna oleh pelaksananya. Sehubungan dengan topik bahasan kita, menyanyi dalam kebaktian adalah perintah Allah yang bersifat langsung. Paulus dengan ilham Roh Kudus mengatakan, “Hendaklah … menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” (Kolose 3:16). Ayat ini bersifat imperative (perintah). Ini menunjukkan bahwa menyanyi telah diotoritaskan oleh Allah sebagai elemen penting di dalam kebaktian yang harus dilakukan.

Hanya Menyanyi

Hukum Kristus mengotoritaskan “hanya” menyanyi dalam kebaktian. Beberapa orang mungkin tidak akan setuju dengan hal ini. Mengapa? Mereka akan memberikan beberapa alasan yang berbeda-beda, seperti; “Dalam Perjanjian Lama umat Tuhan memuji Allah dengan alat musik, ini berarti sekarang boleh”, “ungkapan menyanyikan mazmur menunjukkan penggunaan alat musik “, “bernyanyi dengan memakai alat musik atau tidak memakai alat musik dalam kebaktian adalah masalah pendapat”, dsb. Sebagian kelompok yang menyebut “Kristen” bertepuk tangan saat bernyanyi dalam kebaktian, dan ada juga bahkan di dalam jemaat Tuhan yang hanya bergumam saat bernyanyi. Kontroversi ini muncul karena adanya kesalah-pengertian tentang system ibadah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan tentang bernyanyi dalam kebaktian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pertama, Hukum Taurat dan Hukum Kristus berbeda. Di bawah hukum Taurat, penggunaan alat musik untuk memuji Allah diperkenankan (Mazmur 150:3-5; 149:3; dll), tetapi di bawah hukum Perjanjian Baru, memuji Tuhan “dengan segenap hati” (Efesus 5:19), dan “ucapan (buah-buah) bibir…”(Ibrani 13:15). Melodi dalam hukum Taurat adalah petikan alat musik, tetapi melodi dalam hukum Kristus adalah hati.

Kedua, Dalam Perjanjian Lama ada contoh penggunaan alat musik dalam kebaktian, tetapi dalam Perjanjian Baru tidak ada satupun contoh penggunaan alat musik. Berikut ini beberapa ayat sebagai bukti tidak adanya penggunaan alat musik dalam ibadah:

  • Matius 26: 30 “…menyanyikan nyanyian pujian…”
  • Markus 14:26 “...mereka menyanyikan nyanyian pujian…”
  • Kisah Rasul 16:25 “…Paulus dan Silas …menyanyikan puji-pujian kepada Allah…”
  • Roma 15:9 “...menyanyikan mazmur bagi nama-Mu."
  • 1 Korintus 14:15 “...aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”
  • Efesus 5:19 “...Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.”
  • Kolose 3:16 “...menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani…”
  • Ibrani 2:12 “...memuji-muji Engkau...”
  • Ibrani 13:15 “...ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.”
  • James 5:13 “...baiklah ia menyanyi!

Dalam sejarah kekristenan, penggunaan alat musik dalam kebaktian baru diperkenalkan pada abad VIII S.M. Berarti sejak berdirinya gereja pada abad I S.M, sampai ke abad VIII S.M, penggunaan alat musik dalam kebaktian tidak pernah ada. Ini menunjukkan dengan kurun waktu yang cukup lama, orang-orang Kristen yang hidup pada zaman-zaman ini mengetahui pasti bahwa penggunaan alat musik dalam kebaktian tidak diotoritaskan, dan mereka tidak berani melakukannya.

Ketiga, memahami arti kata mazmur dan hubungannya dengan perintah untuk menyanyikannya dalam Perjanjian Baru. Kata mazmur yang diterjemahkan dari kata Ibrani “mizmowr” dari akar kata “zmr” (zamar), yang secara hurfiah berarti “memetik” ditujukan pada aksi memetik senar alat musik dengan jari-jari tangan. Kata mizmowr ini diterjemahkan “psalmos” dalam bahasa Yunani, yang darinya kata Inggris “psalm” berasal, mengimplikasikan bahwa lirik mazmur yang dibuat secara puitis akan disertai iringan alat musik yang dipetik dalam melantunkannya. Disamping psalmos, ada dua kata Yunani lain untuk nyanyian, “humnos” dan “ode.” Humnos dari akar kata kerja “hudeo”yang berarti “merayakan” atau “bernyanyi.” Sedangkan kata “ode” ditujukan pada komposisi syair lagu rohani Ibrani. “Ode” adalah kata Yunani yang umum dipakai dalam Perjanjian Baru dan tidak pernah menunjukkan penggunaan alat musik. Tetapi terlepas dari humnos dan ode, meskipun dari segi epistimologi (asal-usul kata) kata mazmur memiliki pengertian nyanyian yang dinyanyikan dengan iringan alat musik, bukan berarti secara sepihak membenarkan penggunaan alat musik dalam kebaktian gereja Perjanjian Baru. Arti kata mazmur dalam Perjanjian Baru adalah nyanyian yang dinyanyikan dengan iringan melodi hati (Efesus 5:19), dan juga buah-buah bibir atau mulut (Ibrani 13:15). Kata Yunani “psallo” dalam Efesus 5:19 berasal dari kata Yunani “psallontes” yang diterjemahkan ke dalam Alkitab bahasa Inggris dengan “making melody,” dan dalam Alkitab bahasa Indonesia Terjemahan Lama, “bunyikan.” Ini berarti bahwa hati juga adalah alat musik yang digunakan saat menyanyikan pujian. Berdasarkan fakta di atas kita melihat bahwa telah terjadi pergeseran arti dari syair mazmur dengan iringan alat musik dalam Perjanjian Lama menjadi syair mazmur dengan iringan petikan melodi hati dan buah-buah bibir dalam Perjanjian Baru.

Keempat, Alkitab menyatakan bahwa ide penggunaan alat musik untuk mengiringi pujian kepada Tuhan hanyalah inisiatif manusia sendiri, bukan dari Allah. Allah melalui nabi Amos dengan jelas mengatakan kepada orang Israel bahwa mereka “…bernyanyi-nyanyi mendengar bunyi gambus, dan seperti Daud menciptakan bunyi-bunyian bagi dirinya; (Amos 6:5). Dan lagi Allah mencela penggunaan alat-alat musik pada zaman nabi Amos (Amos 5:23).

Bernyanyi berarti mengeluarkan nada musik dengan suara. Lirik lagu pujian yang kita nyanyikan dengan baik, kita hayati maknanya, akan menghasilkan sebuah nuansa pujian yang indah kepada Allah dan lagi memberi penghiburan yang dalam bagi diri kita.

Kelima, Alkitab tidak pernah membicarakan atau mencatat adanya aksi tepuk tangan dan gumam saat bernyanyi dalam kebaktian. Tepuk tangan memang sudah menjadi tanda universal ketika mengisyaratkan keberhasilan seseorang atas sesuatu hal, atau persetujuan terhadap suatu pendapat seseorang dalam suatu acara. Tetapi tepuk tangan saat bernyanyi tidak pernah kita temukan contohnya dalam Alkitab. Ini berarti tepuk tangan tidak diotoritaskan oleh Allah sebagai bagian dari bernyanyi. Kalau hal ini dilakukan berarti telah menambah perintah atau hukum Allah tentang bernyanyi, dan itu adalah dosa (Wahyu 22:18; 1 Yohanes 3:4). Demikian juga dengan berguman adalah hal yang tidak pernah diperintahkan Allah dalam bernyanyi. Bernyanyi itu bersuara dan mengucapkan kata-kata atau syair lagu. Penulis kitab Ibrani berkata bahwa ketika bernyanyi kita harus mengeluarkan “… ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.”(Ibrani 13:15b).

Jika kita menyadari bahwa kita berada di bawah hukum Kristus, bukan lagi di bawah hukum Taurat yang sudah tidak berlaku lagi (Kolose 2:14),dan kita mau menerima fakta dimana tidak ada satupun contoh penggunaan alat musik apapun oleh gereja mula-mula, tidak ada tepuk tangan dan gumam dalam menyanyi, maka kita hanya akan menyanyikan syair lagu rohani dengan mulut diiringi petikan melodi hati kita.

Sikap Yang Benar Dalam Menyanyi

Bernyanyi bukan hanya dinilai dari merdunya suara, bisa bernyanyi dengan suara 1,2,3, dan 4, tetapi juga “SIKAP” bernyanyi adalah bagian yang sangat penting dalam bernyanyi. Kita tidak boleh asal bernyanyi saja, dan mengabaikan beberapa bagian terpenting dari aksi bernyanyi itu. Yesus berkata dalam Yohanes 4:24 “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Yesus di sini berbicara mengenai sikap yang benar dalam kebaktia. Sikap benar apakah yang harus dimiliki saat bernyanyi?

Segi Intelektual

Dalam memuji Allah, kita secara pribadi harus menunjukkan sikap mental yang benar. Pertama, mengerti makna syair lagu yang dinyanyikan. Paulus berkata: “aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” (1 Korintus 14:15). Nyanyian yang kita nyanyikan kepada Allah benar-benar kita tahu untuk memuji kebesaran namaNya. Disamping itu juga, hendaknya syair lagu yang dinyanyikan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab.

Sampai saat ini jemaat-jemaat Tuhan di Indonesia pada umumnya masih banyak yang menggunakan buku nyanyian rohani karangan gereja-gereja denominasi. Tentu saja tidak diragukan akan adanya lirik (syair-syair) lagu dari buku nyanyian tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab atau Perjanjian Baru. Tetapi tidak semua syair lagu bertentangan, ada yang bisa dinyanyikan. Dan sambil menunggu adanya lagu-lagu rohani yang diciptakan anggota jemaat Tuhan, kita bisa tetap menggunakan buku nyanyian tersebut, tetapi kita perlu selektif (memilih) terhadap mana syair lagu yang layak atau tidak layak untuk dinyanyikan kepada Allah.

Kedua, memusatkan pikiran pada saat bernyanyi. Kita harus benar-benar memfokuskan pikiran pada setiap elemen kebaktian yang kita lakukan, termasuk saat bernyanyi. Jangan biarkan pikiran kita memikirkan hal-hal lain. Dengan segenap hati atau akal budi kita, yang ada di dalam pikiran semata-mata memuji Allah dan juga menikmati lagu dan maknanya untuk kehidupan kita dan saudara seiman.

Segi Emosional

Disamping sikap mental, kita juga harus memiliki sikap emosi yang benar. Apakah sikap emosi yang benar itu?

Pertama, hormat kepada Allah. Kita harus menyadari bahwa yang sedang kita hadapi dan puji adalah Allah yang Mahatinggi. Bersikap hormat juga berarti merendahkan diri. Kita harus merendahkan diri di hadapan Allah saat bernyanyi. Seringkali terlihat ada beberapa di antara anggota jemaat yang suaranya terlalu mendominasi alias terlalu keras dari pada suara anggota yang lainnya, sehingga suara tidak merata sama dalam kebaktian. Hal ini tentu sangat merusak suasana kebaktian dan juga mengganggu konsentrasi anggota yang lain karena perhatian mereka beralih kepada suara yang dominan tersebut. Apakah anggota yang demikian bernyanyi untuk memuaskan dirinya, dihormati atau menyenangkan Allah? Ini adalah tanda arogansi (kesombongan)!

Kedua, tulus hati. Kita harus menunjukkan ketulusan hati dalam memuji Tuhan. Kita harus sungguh-sungguh menyiapkan hati dan perasaan (emosi) kita yang sehat ketika hendak memuji Allah. Bernyanyi dengan hati yang tulus memberi kepuasan jiwa kita.

Ketiga, sungguh-sungguh. Menyanyi untuk memuji Allah bukan berlatih menyanyikan lagu, tetapi menyanyi dengan serius. Allah menuntut kita untuk memujiNya dengan segenap jiwa. Jiwa kita sepenuhnya kita berikan untuk memuji Allah.

Keempat, bernyanyi dengan gembira atau sukacita. Kita harus bergembiraan saat menyanyikan lagu pujian kepada Allah (Yakobus 5:13b). Suasana hati yang senang atau gembira adalah salah satu bagian penting dalam memuji Tuhan. Nyanyian sangat identik kegembiaraan atau sukacita. Nyanyian bisa merubah dukacita menjadi sukacita. Orang berduka akan terhibur oleh lantunan lagu.

Menyanyi Melibatkan Seluruh Jemaat.

Menyanyi dalam kebaktian bukan sebagai ajang perlombaan menyanyi, seperti paduan suara atau vocal group (kelompok nyanyi yang tidak terbatas jumlahnya), kor (kelompok nyanyi yang tidak terbatas jumlahnya, dan tanpa iringan alat musik), trio (kelompok nyanyi yang terdiri dari tiga orang), duet atau feat (kelompok nyanyi yang terdiri dari dua orang), dan solo (menyanyi seorang diri). Menyanyi dalam kebaktian gereja adalah bernyanyi bersama-sama pada waktu yang sama. Pada kesempatan yang telah ditentukan, semua anggota jemaat tanpa terkecuali harus terlibat dalam bernyanyi.

Beberapa gereja denominasi, bukan saja menggunakan berbagai alat musik dalam kebaktian, tetapi juga telah membentuk paduan suara (vocal group), kor, trio dan solo. Melihat fakta ini maka ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab, “apakah ada otoritas dan contoh dalam Alkitab mengenai bentuk-bentuk bernyanyi seperti ini saat kebaktian?” Hanya ada dua jawaban untuk pertanyaan ini:

Pertama, tidak ada otoritas dan satu pun contoh dalam Alkitab yang menyatakan berbagai bentuk kelompok menyanyi selain bernyanyi secara kolektif. Jawaban ini datang dari orang-orang yang berbicara ketika Alkitab berbicara dan berdiam diri ketika Alkitab berdiam diri (1 Petrus 4:11). Mereka adalah anggota-anggota gereja Perjanjian Baru yang murni. Gereja yang murni tidak akan pernah sama sekali membentuk kelompok-kelompok nyanyi dalam kebaktian. Sebaliknya, kalau gereja yang tadinya murni, tapi kemudian mulai membentuk kelompok-kelompok nyanyi dalam kebaktian, maka gereja itu secara otomatis menjadi tidak murni lagi. Gereja tersebut telah merubah dan menambahkan sesuatu yang tidak diotoritaskan kepada perintah Allah. Itu adalah dosa! Satu-satunya jalan untuk menjadikan gereja tersebut murni kembali seperti keadaannya semula, gereja tersebut secara universal harus bertobat dari perbuatan melanggar perintah bernyanyi yang benar, dan kemudian hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah saja.

Kedua, bentuk-bentuk kelompok menyanyi adalah masalah pendapat saja. Pernyataan ini datang dari orang-orang yang berada dalam gereja yang mempraktekkan hal yang demikian. Beberapa orang tidak tahu membedakan mana “pendapat” dan mana “doktrin.” Beberapa orang lagi tahu perbedaan kedua hal ini, tetapi pikiran mereka telah dipenuhi oleh dalih-dalih duniawi, sehingga mengorbankan prinsip kebenaran Alkitab. Mereka berbicara ketika Alkitab berdiam diri, dan berdiam diri ketika Alkitab berbicara.

Begitu menyedihkan ketika doktrin dianggap sebagai pendapat. Alkitab tidak memberikan satupun bukti adanya kelompok-kelompok menyanyi dalam jam kebaktian. Alkitab hanya memberikan bukti tentang keterlibatan semua anggota bernyanyi dalam satu kebaktian. Alkitab berdiam diri tentang kelompok-kelompok menyanyi dalam kebaktian. Ini berarti bahwa hal yang demikian tidak diotoritaskan untuk dilakukan oleh orang Kristen. Bernyanyi dengan melibatkan seluruh anggota jemaat adalah alkitabiah (doctrinal). Selain dari hal ini adalah pendapat manusia (bdg. Amsal 14:12).

Berbakti Dengan Doa

Doa adalah ekpresi pujian kedua dalam kebaktian. Melalui doa kita mengakui kebesaran nama Allah, mengucap syukur atas berkat-berkat Tuhan, baik secara jasmani maupun secara rohani, memohon kebutuhan-kebutuhan kita sendiri atau orang lain. Doa begitu penting bagi kehidupan setiap orang Kristen dan sudah menjadi salah satu kebutuhan. Paulus mengakui hal tersebut dan sekaligus mendorong orang Kristen untuk “ tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17).

Dalam berdoa tentu saja, bukan hanya sekedar mengucapkan kata-kata permohonan atau permintaan saja kepada Allah, tetapi lebih dari itu ada hal-hal lain yang berhubungan dengan doa yang perlu kita ketahui agar sepenuhnya doa yang kita panjatkan diterima Allah dan juga mendapat jawaban dariNya. Apakah yang harus kita ketahui tentang doa?

Doa Adalah Perintah

Oleh karena umat Tuhan tidak bisa berinteraksi langsung muka dengan muka bersama Allah, layaknya manusia dengan sesamanya, maka harus ada media (doa) yang bisa berfungsi sebagai penghubung antara Allah dan umatNya. Doa adalah pilihan terbaik Allah untuk kita. Dengan alasan inilah maka doa menjadi elemen paten yang diotoritaskan Allah bagi kita. Oleh sebab telah diotoritaskan Allah, maka berdoa menjadi sebuah perintah yang harus kita lakukan. Banyak ayat-ayat Alkitab yang memerintahkan untuk berdoa, contohnya 1 Tesalonika 5:17; Kolose 4:2)

Sikap Yang Benar Dalam Berdoa

Mungkin setiap orang Kristen sudah tahu apa arti doa, namun jika belum memahami bagaimana cara berdoa yang benar, maka tentu belum menjamin bahwa doa yang kita naikkan kepada Allah itu berkenan. Sikap dalam berdoa merupakan salah satu bagian yang penting untuk kita miliki. Berdoa itu melibatkan intelektual dan emosional kita. Apa yang dimaksud dengan hal ini?

Segi intelektua

Dari segi intelektual ada dua hal penting yang harus kita mengerti: Pertama, mengetahui dengan jelas apa yang akan didoakan. Disamping harus mengetahui pola doa (Alamat doa, pujian dan ucapan syukur, permintaan untuk kebutuhan dan pengampunan, kuasa doa – dalam nama Yesus), kita juga harus mengetahui isi permohonan kita secara spesifik dan jelas. Dalam kebaktian pada dasarnya telah ditunjuk pelayan-pelayan tertentu untuk memimpin doa, dan ketika doa dipimpin, anggota-anggota jemaat hanya mengikuti doa tersebut dalam hati tanpa bersuara. Jadi pemimpin doa harus mendapatkan informasi yang jelas dan lengkap, bahkan tertulis agar tidak terjadi kesalahan pengucapan nama, kata, kalimat ataupun lupa menyebutkan hal tertentu dalam doa. Doa jangan bertele-tele alias melakukan pengulangan yang sia-sia (Matius 6: 7).

Kedua, mengetahui bahwa isi permohonan layak untuk didoakan. Tidak cukup hanya mengetahui apa yang akan didoakan. Tetapi juga harus mempertimbangkan apakah hal-hal yang kita doakan itu layak atau tidak. Apakah bertentangan dengan prinsip-prinsip alkitabiah atau tidak. Kalau kita berdoa dengan ragu dan juga untuk tujuan memuaskan keinginan jahat, maka itu salah dan tidak akan dijawab oleh Allah (Bdg. Yakobus 1:6,6; 4:2-3; Efesus 6:18, dll).

Segi Emosion

Seperti halnya menyanyi, dalam berdoapun secara emosional kita harus menunjukkan; pertama, sikap hormat kepada Allah sebagai penerima doa kita. Kita harus menyadari bahwa yang kita hadapi adalah Pribadi Mahabesar yang layak dipuja, sumber segala berkat untuk kehidupan kita. Kita juga harus menghadap Allah dengan rendah hati. Kita dapat membuka Lukas 18:13-14 untuk melihat contoh seorang yang rendah hati ketika berdoa kepada Allah. Sikap hormat dan rendah hati adalah sikap yang menunjukkan penghormatan kepada Allah, Raja Agung.

Kedua, kesungguhan hati kita. Kita harus bersikap sungguh-sungguh dalam berdoa yang dipimpin oleh pelayan yang dipercaya untuk memimpin doa bagi kita. Pusat perhatian kita hanya kepada doa yang disampaikan tersebut. Ini berarti kita perlu mengontrol pikiran kita agar pusat perhatian kita tidak beralih kepada hal-hal lain.

Memang bukan pekerjaan mudah untuk menguasai pikiran dibandingkan tubuh fisik kita. Mungkin kita dapat duduk dengan tertib dan diam saat berdoa, namun belum menjamin kalau pikiran kita terfokus pada doa tersebut. Kadang-kadang terlintas dalam pikiran kita hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman kita sebelumnya, atau khayalan-khayalan kosong. Perlu ditaruh dalam pikiran kita, bahwa ketika hal-hal yang demikian ada dalam pikiran kita, maka sebenarnya kita tidak berdoa lagi. Inilah sikap yang disebut munafik oleh Yesus (Matius 6:5).

Tetapi satu hal yang pasti, bahwa doa membutuhkan pusat perhatian kita. Kalau kita mau melatih atau mendisiplin pikiran kita untuk fokus, maka mudah-mudahan hal itu akhirnya akan menjadi kebiasaan yang baik kita seterusnya.

Ketiga, berdoa dengan sukacita. Paulus berkata bahwa dia berdoa dengan sukacita (Filipi 1:3). Suasana kebaktian adalah suasana sukacita. Ketika kita menyembah Allah, Ia ingin kita datang membawa hati yang penuh sukacita. Jangan kuatir dengan dukacita yang sedang kita alami, sebab ketika kita menyerahkan kepada Allah.

Hal-Hal Yang Perlu Didoakan Dalam Kebaktian

Sebagai tambahan, kita perlu juga mengetahui apa dan siapa saja yang perlu kita doakan dalam kebaktian. Ayat-ayat Alkitab menyatakan banyak hal yang perlu kita doakan, di antaranya:

  • Mendoakan para pemerintah agar Tuhan campur tangan dalam pemerintahan mereka , yang akan berpengaruh kepada kehidupan umat Tuhan (1 Timotius 2:2).
  • Mendoakan orang sakit agar Tuhan memberi kesembuhan kepadanya (Yakobus 5:16).
  • Mendoakan para pelayan untuk keberhasilan mereka bekerja di ladang Tuhan (Kolose 4:2).
  • Orang Kristen harus saling mendoakan satu sama lain (Yakobus 5:16).
  • Mendoakan diri sendiri untuk memohon kebutuhan-kebutuhan hidup secara pribadi (Yakobus 5:13a)
  • Mendoakan musuh-musuh (orang yang menganiaya) kita agar Tuhan menolongnya merubah hatinya (Matius 5:44).

Kesimpulan

Nyanyian dan doa adalah elemen pujian yang penting dalam kebaktian. Keduanya membutuhkan kesiapan intelektual dan emosional masing-masing orang Kristen. Kita harus melakukan kedua elemen pujian ini, seperti elemen-elemen kebaktian lainnya sesuai dengan kehendak Allah baik secara intelektual maupun emosional.

Allah telah mengotoritaskan dan memberi kita hak untuk menyanyi dan berdoa dalam memuji namaNya, menghibur satu sama lain, mengucapkan syukur dan memohon kebutuhan-kebutuhan kita kepada Allah. Menyanyi dan berdoalah untuk kemuliaan Allah.

Rujukan

  1. Liddell, Bobby, What Does God Authorize In Worship? Fifteenth Annual Bellview Lectures Pensacola, Florida,1990.
  2. Rutherford, Rod, Bible Answers to Commonly Asked Questions.
  3. Liddell, Bobby, Current Crises Challenging the Church Seventeenth Annual Bellview Lectures Pensacola, Florida, 1992.
  4. Copeland, Mark A., The Book of Psalms, A Study Guide With Introductory Comments, Summaries, Outlines, and Review Questions, 2002.
  5. Staggs, Brandon, Power BibleCD on Strong’s Hebrew and Greek Dictionary Online Publishing, Inc. 127 N. Matteson Street PO Box 21, Bronson, MI 49028, 2001.
  6. Ayat-ayat dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru (TB) LAI, 1974.