Kebenaran Bagi Dunia

Hidup Bagi Allah

Oleh Jon Ropelemba

Dalam menjalani hidupnya, setiap manusia hanya mempunyai dua pilihan, yaitu hidup untuk Allah atau hidup untuk iblis (Roma 6:16). Sebelum seseorang memutuskan untuk hidup bagi Allah sudah tentu kehidupan yang jalaninya adalah suatu kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Paulus menggambarkan bahwa kehidupan orang yang seperti itu menunjukkan dia tidak mengenal Allah, pikirannya sia-sia, pengertiannya gelap, tidak bersekutu dengan Allah, hatinya degil, perasaannya tumpul, hidup dalam hawa nafsunya (Efesus 4:17-19). Ketika seseorang memutuskan untuk hidup bagi Allah, itu berarti bahwa dia telah memutuskan untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma 6), menjelaskan dengan sangat jelas tentang kehendak Allah bagi orang-orang yang telah memutuskan untuk menaati Kristus. Dalam ayat 11, firman Allah berkata: Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Ayat ini memerintahkan supaya setiap orang yang telah mati bagi dosa (orang yang telah memutuskan untuk percaya kepada Kristus, bertobat atas dosa-dosanya, mengaku dengan mulutnya bahwa Kristus adalah Juruselamat dan telah dibaptis untuk pengampunan dosanya) sudah seharusnya hidup bagi Allah dalam segala aspek kehidupannya.

Orang yang hidup bagi Allah adalah orang yang sudah hidup baru (Roma 6:4; Efesus 4:21-24; 2 Korintus 5:17). Istilah hidup baru dalam Roma 6:4 berasa dari bahasa Yunani καινότητι ζωῆς. Kata καινότητι berasal dari kata καινότης yang artinya “menunjukkan keadaan yang baru.” Paulus menyebutnya sebagai ciptaan yang baru dalam 2 Korintus 5:17. Bertitik tolak dari penjelasan ini, maka orang yang hidup bagi Allah adalah orang yang hidupnya tidak dikuasai dosa (Roma 6:13), tidak berdusta lagi (Efesus 4:25), tidak mencuri lagi (Efesus 4:28), tidak suka berkata kotor (Efesus 4:29). Hidup bagi Allah artinya lebih mengasihi Allah daripada hal-hal duniawi (1 Yohanes 2:15-17) dan berjalan dalam terang (1 Yohanes 1:5-7).

Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah pasti akan berjalan dalam terang (taat pada kehendak Allah) (Yohanes 15:15; 1 Yohanes 5:3).

Hidup bagi Allah adalah ciri atau pola hidup seseorang yang telah menjadi orang Kristen. Paulus berbicara tentang pola hidupnya, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20). Sebagai orang Kristen kita juga seharusnya hidup sama seperti Paulus. Orang Kristen adalah hamba Kristus karena kita telah dibeli dengan harga tunai oleh Kristus dengan darah-Nya (1 Korintus 6:20; 7:23). Seorang hamba harus taat kepada tuannya. Demikian juga dengan kita, sebagai hamba Kristus, kita harus taat kepada Kristus, kita tidak boleh lagi hidup sesuai dengan kehendak kita sendiri. Kita hidup untuk memperkenankan Kristus (Galatia 1:10). Hidup bagi Allah adalah hidup untuk menghasilkan buah-buah roh (Galatia 5:22-23).

Jika kita adalah orang Kristen, berarti kita mempunyai tanggung jawab untuk hidup bagi Allah. Dan bila kita gagal, itu berarti ada sesuatu yang salah pada diri kita. Dalam catatan Perjanjian Baru, kita dapat menemukan contoh-contoh tentang orang Kristen yang gagal hidup bagi Allah, misalnya: Ananias dan Safira (Kisah Rasul 5:1-11), Himeneus dan Aleksander (1 Timotius 19-20), Demas (2 Timotius 4:10), Diotrefes (3 Yohanes 9-10), dan lain-lain. Bila kita memperhatikan kegagalan orang-orang ini, masalah mereka adalah karena masih mengizinkan hal-hal duniawi menguasai hidup mereka. Tidak berbeda dengan kita saat ini, jika kita gagal hidup bagi Allah, itu karena kita masih mengizinkan hal-hal duniawi menguasai hidup (hati) kita. Agar kegagalan ini tidak terjadi, Paulus menyarankan supaya kita memikirkan perkara-perkara yang di atas (surgawi) dan mematikan segala sesuatu yang duniawi (Kolose 3:1-10), jangan memperhambahkan diri lagi kepada dosa (Roma 6:6, 12, 13) dan hidup lebih mengasihi Allah daripada hal-hal duniawi (1 Yohanes 2:15-17).

Saudara-saudaraku, hidup bagi Allah adalah pilihan dan itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Yang dibutuhkan untuk menjalaninya adalah suatu komitmen yang kuat. Karena komitmen yang kuatlah sehingga Paulus tetap bertahan untuk hidup bagi Allah (Kristus) meskipun aniaya dan penderitaan silih berganti datang menerpanya (2 Korintus 11:23-27; 2 Korintus 4:16-18). Dalam akhir hidupnya, dia berkata, Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya (2 Timotius 4:6-8).