Kebenaran Bagi Dunia

Ibadah Jemaat

Atheis adalah sebutan kepada kelompok tertentu yang menyangkal eksistensi Allah. Ada juga kelompok lain yang disebut dengan kelompok Agnostik. Kelompok ini berpendapat bahwa tidak cukup bukti untuk membuktikan eksistensi Allah tetapi tidak menyangkalnya namun juga tidak mendukung eksistensi-Nya.

Apapun yang menjadi alasan sehingga manusia menyangkal eksistensi Allah, namun jikalau dia jujur dengan dirinya sendiri dan membuka mata lebar-lebar serta memandang alam semesta maka dengan logikanya dia pasti akan mengakui eksistensi Allah. Sebab segala sesuatu yang ada pasti ada yang membuatnya terkecuali Allah.

Allah menciptakan manusia dengan tujuan utama yaitu agar manusia itu memberi hormat kepada-Nya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Allah akan merasa dihormati dan diagungkan apabila manusia itu melakukan FirmanNya dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam kehidupan sosial maupun spiritualnya. Sebenarnya aksi manusia setiap harinya tidak tergantung kepada manusia itu melainkan tergantung pada aturan Allah. “Aku tahu, ya Tuhan bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya...” (Yeremia 10:23).

Prinsip yang sama juga berlaku dalam ibadah kepada Allah. Dalam cerita yang terdapat dalam Alkitab, ada beberapa contoh dimana orang mencoba beribadah kepada Allah tetapi ibadah itu ditolak bahkan dibenci Allah, di lain pihak Allah sungguh berkenan dengan ibadah yang dilakukan orang -orang tertentu. Apa sebabnya, apakah Allah memandang rupa orang? Sesungguhnya tidak. Yeremia dan Paulus mempunyai konsep yang sama tentang hal ini. Mereka berkata bahwa Allah tidak memandang rupa, Dia adil (Yeremia 18:1, 2; Roma 2:6-11). Kalau demikian mengapa hal itu terjadi? Untuk mengetahui hal ini, marilah kita perhatikan beberapa hal berikut ini yang berhubungan dengan ibadah.

Definisi Ibadah

Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia Edisi II, 1991, hal.364, menyatakan bahwa ibadah berarti perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan kata Worship dan service. Kedua kata ini berasal dari kata Ibrani Avoda dan bahasa Yunani Latreia yang kedua-duanya ditujukan kepada pelayanan budak belian atau upahan dalam melakukan pekerjaannya bagi majikannya. Dalam rangka menjalankan pelayanan ini, para budak harus bersikap hormat dan taat yang ditunjukkan dengan posisi membungkuk atau tiarap (hasytakhawa-bahasa Ibrani dan proskuneo-bahasa Yunani). Apabila hal ini ditujukan kepada Tuhan, maka akan lebih ditujukan pada pengungkapan rasa hormat, takut yang dituangkan seluruhnya dalam ketaatan dalam malakukan apapun yang diperintahkan oleh Allah yang di dalam terminologi teologi disebut ibadah (ibadat), demikian dikatakan oleh Kevin J. Conner dalam bukunya Doktrin Dasar, Harvest Publication, Jakarta, hal. 61-62.

Bagaimanakah Mestinya Melakukan Ibadah Itu

Dari awal mulanya Allah menciptakan manusia, dengan tujuan untuk memuliakan, menghormati, memuja dan mengagungkanNya serta untuk melakukan pelayanan terhadap sesama manusia. Hal ini dengan jelas dapat diketahui dari pernyataan Yesaya berikut ini; “...manusia yang Engkau ciptakan demi untuk kemuliaanMu” (Yesaya 43:7). Prinsip yang sama juga dikatakan oleh Yesus, bahwa melalui perbuatan murid-muridNya orang akan mempermuliakaan Bapa di sorga (Matius 5:16). Untuk tujuan ini Allah tidak membiarkan manusia itu untuk menentukan apa, bagaimana dan kapan untuk melakukan pelayanan baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Allah menetapkan cara, waktu dan perlengkapan untuk melakukan ibadah itu. Dalam kelanjutan pelajaran ini, agar kita lebih fokus maka apabila kita berbicara tentang ibadah, berarti kita bukan sedang membicarakan tentang perbuatan kita untuk melakukan pelayanan terhadap sesama sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah melainkan berbicara tentang pelayanan manusia kepada Allah, mentaati perintahNya dan beribadah kepadaNya dalam sepanjang zaman dalam Alkitab.

Pada zaman bapa-bapa, tidak ada waktu, dan tempat yang khusus untuk melakukan ibadah. Namun walaupun demikian, Allah tetap memberikan instruksi langsung kepada kepala-kepala keluarga tentang perlengkapan (elemen) apa yang harus mereka perlukan dalam ibadah mereka kepada Allah. Sebagai contoh, Habel mempersembahkan anak sulung dari kambing dombanya (Kejadian 4:4), Nuh mempersembahkan korban bagi Tuhan yang terdiri dari segala binatang dan segala burung yang tidak haram (Kejadian 8:20). Selanjutnya kita membaca bahwa Abraham mempersembahkan korban bakaran kepada Allah yang terdiri dari lembu, kambing, domba, burung tekukur dan burung merpati (Kejadian 15:7-11). Mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh iman dalam kitab Ibrani. Dalam teks tersebut dengan jelas dinyatakan kepada kita bahwa Allah yang menentukan apapun yang patut dipersembahkan oleh manusia kepada-Nya. Dengan melakukan seperti yang ditetapkanNya, demikianlah Allah merasa dipermuliakan, dihormati ataupun ditaati.

Kain yang hidup pada zaman bapa-bapa mencoba beribadah dengan cara dan keinginannya sendiri. Secara pribadi dia merasa puas karena dia telah melakukan sesuai dengan seleranya. Tetapi Allah tidak berkenan karena tidak sesuai dengan keinginan-Nya (Kejadian 4:6). Dari korban persembahan Kain, Habel, Nuh dan Abrahan dapat kita simpulkan bahwa Allah menetapkan apa yang harus dipersembahkan kepada Allah, di luar itu, Dia tolak. Demikianlah Yesus berkata kepada orang Farisi dan ahli Taurat bahwa ibadah mereka itu akan sia-sia karena mereka melakukannya dengan ajaran-ajaran manusia (Matius 15:8, 9).

Pada zaman Musa Allah lebih banyak lagi memberikan ketetapan-ketetapan tentang hal ibadah ini. Pada zaman Abraham tidak ada indikasi tentang tujuan untuk mempersembahkan korban kecuali sekadar untuk menunjukkan rasa takut, respek dan untuk memuliakan Allah. Namun pada zaman Musa korban persembahan yang dipersembahkan umat-Nya makin jelas makna dan tujuannya yaitu untuk memuliakan, menghormati dan untuk menunjukkan rasa takut kepada Allah serta untuk mengingatkan tentang dosa-dosa mereka.

Dalam hal beribadah kepada Allah, Musa lebih khusus lagi menyatakan kapan waktu beribadah, siapa pelaksana ibadah dan dimana ibadah itu dilakukan, yang secara keseluruhan harus dilakukan sesuai dengan ketetapan Allah. Sebagai contoh: (1) Allah telah menetapkan bahwa hari Sabat (hari ke tujuh) adalah hari untuk Tuhan (hari untuk ibadah) dan tidak boleh mengadakan perjalanan jauh atau bekerja, bahkan tidak boleh memasak (Keluaran 35:1-3). Siapapun yang melanggar ketetapan ini dia akan dihukum mati. Dalam Bilangan 15:32-36 diberikan contoh seorang yang dilontari batu (dirajam) sampai mati karena kedapatan memungut kayu api (bekerja) pada hari Sabat.

Jadi sangat jelas bahwa manusia tidak boleh melawan Allah dalam ketetapan-Nya. Di bawah hukum Perjanjian Baru (Hukum Kristus), Allah memberikan hukum yang sempurna sebagai pedoman (penuntun) dalam ibadah umat manusia yang menyangkut kehidupan spiritual (hubungan dengan Allah). Perjanjian Baru menyatakan kepada kita dengan jelas bagaimana seharusnya ibadah itu dilakukan. Yesus berkata bahwa ibadah itu harus dilakukan di dalam kebenaran (Yohanes 4:24). Apabila kita melihat tulisan Yohanes lainnya jelaslah bahwa yang dimaksud dengan kebenaran adalah sesuai dengan Firman Allah. Karena Yohanes berkata bahwa Firman Allah adalah kebenaran (Yohanes 17:17); dan kebenaran itu dapat dimengerti dan akan memerdekakan (Yohanes 8:32). Dalam pelayanan pribadi-Nya, Yesus sering mempergunakan perumpamaan dengan tujuan agar murid-murid itu lebih mudah untuk memahami dan agar kebenaran itu tersembunyi dari pengertian orang-orang yang melawan Kristus. Walau demikian pengajaran Kristus yang berhubungan dengan ibadah tidak ada yang bersifat figuratif (kiasan), teka-teki atau yang bersifat misterim melainkan dengan jelas dipaparkan-Nya baik secara langsung maupun melalui rasul-rasul itu.

Ketika Yesus Kristus bertemu dengan perempuan Samaria di sumur Yakub, didalam percakapan mereka, Yesus berkata kepada perempuan itu bahwa Allah itu Roh adanya dan orang yang menyembahNya wajiblah menyembah dengan roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Para ahli Alkitab berkata bahwa menyembah dengan roh di dalam teks ini, lebih ditekankan pada ketulusan hati dan rasa hormat yang sangat dalam dari sang penyembah. Pandangan ini masuk akal karena umumnya manusia kurang menunjukkan rasa hormat terhadap sesuatu yang tidak kelihatan. Itulah yang ada di dalam hati bangsa Israel sehingga mereka menyuruh Harun membuat patung lembu emas untuk mereka sembah (Keluaran 32:1-7). Mungkin hal inilah yang menyebabkan sehingga Yesus berkata “...Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah orang yang percaya walaupan tidak melihatnya” (Yohanes 20:29).

Di dalam kitabnya, Musa telah menubuatkan tentang Yesus yang akan datang sebagai seorang nabi, dan dia berkata kepada bangsa itu untuk mendengarkan Dia (Ulangan 18:15). Ketika Yesus bersama-sama dengan murid-muridNya di gunung penjelmaan, terlihat kepada murid-murid itu Musa, Elia dan Yesus Kristus. Tiba-tiba mereka mendengar suara dari langit berkata, “...Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17:1-8). Nabi Yeremia juga menubuatkan tentang kedatang

Waktu Ibadah

Waktu ibadah di bawah hukum Perjanjian Baru adalah hari pertama dalam minggu itu, berbeda dengan waktu ibadah di bawah hukum Perjanjian Lama yaitu hari Sabat (Sabtu)/hari ke-tujuh. Tidak satupun penulis kitab-kitab di dalam Alkitab memberikan rincian yang jelas tentang perubahan hari ibadah ini. Kita ketahui bahwa ada tujuh hari di dalam satu minggu. Jikalau hari Sabtu adalah hari ke tujuh (Sabat-bahasa Ibrani), maka hari Minggu adalah hari pertama (Ahad-bahasa Ibrani). Walau demikian perlu diingat bahwa hari ibadah yaitu pada hari pertama dalam minggu itu, itulah hari ibadah yang benar, dan bukan pada hari Sabtu seperti yang diyakini dan dipraktekkan oleh sebagian orang. Hal itu dapat dipastikan melalui bukti-bukti berikut ini.

1. Orang Kristen abad pertama beribadah pada hari Pertama dalam minggu itu. Paulus yang medapat wahyu dari Allah beribadah bersama-sama dengan murid-murid Yesus lainnya pada hari pertama, “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara...” (Kisah Rasul 20:7). Disamping dia beribadah, dia juga memerintahkan kepada orang Kristen di Galatia dan Korintus agar mereka beribadah pada hari pertama dalam minggu itu, “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing...menyisihkan...” (1 Korintus 16:2). Jikalau waktu untuk ibadah itu adalah Sabtu (hari ke-tujuh), pastilah Allah tidak berkenan dengan Paulus, sementara dalam kitab yang lain Petrus memberikan kesaksian tentang tulisan Paulus yang sebagiannya sukar untuk dimengerti (2 Petrus 3:15-16).

2. Constantine Agung memulihkan hari ibadah orang Kristen. Dia hidup tahun 280-337 Masehi, dan memerintah atas kekaisaran Roma dari tahun 284-305 Masehi. Pada waktu kepemimpinannya orang-orang Kristen benar-benar mendapatkan kebebasan yang sebelumnya selalu mendapatkan tekanan, sehingga orang Kristen itu ada yang menyangkali Kristus karena beratnya aniaya juga ada yang ibadah dengan diam-diam. Constantine adalah satu-satunya raja Roma yang percaya kepada Kristus, demikian dikatakan oleh Michael H. Hart dalam bukunya Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Pustaka Jaya, hal.157-158.

Pertanyaan yang menarik adalah, Mengapa Constantine tidak memulihkan waktu ibadah itu menjadi hari ke-tujuh (hari Sabat)? Jawabnya saya kira sangat sederhana, yaitu karena dia mengetahui sebelumnya bahwa hari ibadah orang Kristen itu adalah hari pertama dalam minggu itu sehingga dia memulihkan kepada hari itu. Berdasarkan keterangan di atas jelaslah bahwa waktu ibadah bagi orang Kristen adalah hari pertama dalam minggu itu.

Elemen Ibadah

Setiap kali orang Kristen berkumpul pada hari pertama dalam minggu itu untuk beribadah, mereka selalu melakukan lima hal dalam ibadah mereka yaitu:

Bernyanyi

Masalah tujuan, siapa dan kapan seseorang itu bernyanyi bukan merupakan topik yang bersifat kotraversial. Yang banyak dipertanyakan adalah mengapa tidak mempergunakan alat instrumental musik sepeti organ, piano, guitar, gambus, dan alat musik lainnya? Pertama Tuhan memerintahkan kita untuk menyanyikan puji-pujian dengan hati, (Efesus 5:19). Saya menulis dengan pena. Orang pasti mengerti bahwa pena berfungsi sebagai alat. Jadi dalam menyanyikan pujian kepada Allah, hati adalah alat yang diperlukan, dan semua manusia memilikinya. Paulus berkata, “...aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budi” (pengertian-dalam terjemahan lain). Hati adalah satu-satunya yang memegang peranan dalam tindakan ini. Allah tidak pernah mempersulit manusia dalam urusannya dengan Allah tetapi manusia itu sendirilah yang menjadikannya sulit yaitu dengan menambahkan sesuatu yang tidak diperintahkan Tuhan. Semua manusia mempunyai hati dan Nuh mengetahui bahwa tidak ada jenis kayu yang lain yang dapat dia pakai untuk membangun bahtera yang diperintahkan Allah dan berkenan kepadaNya terkecuali kayu gofir (Kejadian 6:14, 22).

Jikalau memang benar bahwa bernyanyi harus dengan alat instrumental musik, mengapa hanya sebagian saja yang memainkannya dan sebagian lain menikmati bunyinya? Dapatkah kegiatan dalam ibadah itu diwakilkan kepada orang lain?

F.W.MATTOX, Ph.D dalam bukunya The Eternal Kingdom, GOSPEL LIGHT PUBLISHING COMPANY, ARKANSAS, hal.154, menyatakan bahwa para Apologis (orang-orang yang cakap dalam Firman Allah dan menulis pembelaan-pembelaan terhadap serangan-serangan yang menyudutkan kekristenan) sering berbicara tentang ibadah orang Kristen dalam apologi mereka, namun tidak satupun diantara mereka yang menyinggung tentang penggunaan alat instrumental musik di dalam ibadah Sidang Jemaat. Lebih jauh lagi beliau berkata bahwa orang Gerika menggunakan instrumental musik dalam menyebah dewa mereka tetapi tidak di dalam ibadah jemaat. Alat instrumental musik yang pertama dipakai dalam ibadah orang percaya adalah pada masa kegelapan yaitu antara abad ke empat sampai ke lima. Elemen ini adalah salah satu diantara tiga elemen lainnya yang dapat dilakukan kapan saja mereka itu suka.

Berdoa

Doa adalah sarana komunikasi manusia dengan Allah. Dalam doa inilah orang percaya itu dapat mengungkapkan rasa syukur atas apa yang dia terima atau mengungkapkan permohonan tentang hal yang dia butuhkan (Matius 7:7-11). Hal ini dapat dilakukan kapan saja sesuai dengan keinginan masing-masing orang percaya. Bahkan Paulus menasihatkan kepada orang Kristen di Tesaonika agar senantiasa berdoa (1 Tesalonika 5:17). Ketika jemaat abad pertama berhimpun bersama-sama, mereka juga berdoa bersama sebagai salah satu aksi dalam peribatan itu. Hal itu dapat dilihat dari ayat-ayat berikut ini; Kisah Rasul 2:42; 1 Korintus 14:26-33.

Perjamuan Tuhan

Perjamuan Tuhan adalah salah satu elemen ibadah yang hanya boleh dilakukan pada hari pertama saja, yaitu pada waktu mereka beribadah. Hal ini sesuai dengan apa yang diperintahkan Paulus kepada jemaat Korintus (1 Korintus 11:23-32). Rasul Paulus melakukannya bersama-sama dengan murid-murid di Troas (Kisah Rsul 20:7), perjamuan Tuhan ini adalah salah satu diantara dua elemen kebaktian yang hanya boleh dilakukan pada hari pertama dalam minggu itu.

Sejauh ini belum ada masalah umum di Indonesia ini yang berhubungan dengan hal ini, terkecuali adanya saudara seiman yang beranggapan bahwa perjamuan Tuhan itu merupakan elemen kebaktian yang lebih penting dari-pada elemen kebaktian lainnya. Hal itu terungkap dari tindakan jemaat itu sendiri antara lain; (1) Adanya anggota jemaat yang datang hanya untuk berpartisipasi dalam Perjamuan Tuhan, sesudah itu dia pulang; (2) Adanya anggota jemaat yang sakit, dan tidak datang beribadah, kemudian anggota jemaat pergi melayani dan hanya dilayani dengan perjamuan Tuhan dan kolekte saja; (3) Adanya anggota jemaat yang berusaha menertibkan diri pada saat perjamuan Tuhan, tetapi tidak pada waktu melakukan elemen ibadah lainnya; (4) Adanya anggota jemaat yang melarang pengujung memakan Perjamuan Tuhan, dengan alasan tidak layak sementara dia tidak dilarang untuk mendengarkan firman, bernyanyi dan ironisnya lagi diulurkan kantong kolekte kepada pengunjung tersebut.

Semua elemen dalam ibadah itu adalah sama. Dilakukan dengan prinsip dan dengan tujuan yang sama pula, sebab itu tidak boleh dianggap yang satu lebih tinggi atau lebih penting daripada yang lainnya.

Persembahan/Kolekte

Ini merupakan elemen ibadah yang kedua yang tidak boleh dilakukan selain dari hari pertama dalam minggu itu. Dalam tulisannya kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata, “Pada hari pertama dari dari tiap-tiap hari minggu hendaklah kamu masing-masing mengumpulkan...” (1 Korintus 16:2). Lebih jauh Paulus memerintahkan agar orang Korintus itu mempersembahkannya dengan tulus ikhlas, jangan dengan paksa, dan sesuai dengan perolehan masing-masing (2 Korintus 9:6-9). Persembahan ini, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan Sidang Jemaat dan kebajikan jemaat (1 Korintus 16:1).

Pemberitaan Firman Allah

Pemberitaan firman Allah dapat saja dilakukan dalam setiap tempat dan setiap ada kesempatan, (2 Timotius 4:2). Walau demikian pemberitaan Injil ini, adalah salah satu elemen di dalam ibadah kepada Tuhan, “...Paulus berbicara hingga tengah malam...” (Kisah Rasul 20:7). Berbicara dalam teks ini ditujukan pada pemberitaan Firman Allah yang dilakukan oleh Paulus.

Sering saya melihat adanya diantara saudara kita seiman yang tidak berlaku tertib dalam mendengarkan firman Allah, bahkan ada yang tertidur. Perlu kita ingat bahwa pada saat kita berbakti atau berhimpun bersama-sama, Allah berada di tengah-tengah kita. Tambahan pula bagaimana dengan pengaruh kita kepada orang lain? Salah satu tujuan pengajaran firman Allah itu adalah untuk meneguhkan, bagaimanakah kita diteguhkan kalau kita tidak memperhatikannya?

Kesimpulan

Allah maha bijaksana didalam segala ketetapanNya. Dia tidak memerlukan masukan maupun saran dari manusia. Dia telah merancang segala sesuatunya sesuai dengan yang dikehendakiNya. Tidak perlu ada komentar dari kita, terkecuali merendahkan hati dan mengikuti perintah-perintahNya, hanya dengan demikianlah ibadah kita diperkenankan olehNya