Kebenaran Bagi Dunia

Nubuatan-nubuatan Dalam Alkitab

Hanya satu ungkapan yang tepat bagi nubuat dalam Alkitab, “Menakjubkan!” Nubuatan-nubuatan yang dicatat dalam Alkitab tidak ada yang tidak digenapi atau akan digenapi. Pada pelajaran ini, saya berpikir sangat penting bagi kita untuk mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

1. Alkitab mencatat beberapa nubuatan & sekaligus kegenapannya

Kita dapat menemukan beberapa nubuat dalam Perjanjian Lama, yang juga digenapi pada zaman Bapa-bapa dan zaman Musa, sedangkan beberapa lagi tergenapi pada zaman Kekristenan dan itu tercatat dalam Perjanjian Baru. Beberapa nubuat dalam Perjanjian Baru pun ada yang yang telah tergenapi. Nubuat dan kegenapannya adalah salah satu bukti bahwa Alkitab adalah Firman Allah.

2. Alkitab mencatat beberapa nubuatan, namun kegenapannya dicatat dalam sejarah dunia, atau catatan tradisi gereja

Baik nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, ada yang tidak tercatat kegenapannya dalam Alkitab itu sendiri, tetapi tercatat dalam sejarah dunia ataupun dalam catatan tradisi gereja. Perlu dipahami bahwa meskipun catatan sejarah dunia ataupun catatan tradisi gereja tidak diilhami oleh Allah penulisannya, namun fakta penting yang perlu kita pertimbangkan adalah bahwa peristiwa-peristiwa yang tercatat di dalamnya telah menggenapi apa yang telah dinubuatkan dalam Alkitab. Catatan sejarah yang ada kaitannya dengan Alkitab merupakan salah satu fakta yang meneguhkan Alkitab adalah Firman Allah.

3. Alkitab mencatat beberapa nubuatan yang belum tergenapi

Tidak semua nubuat dalam Alkitab telah digenapi. Ada beberapa di antaranya belum tergenapi, tetapi pasti akan digenapi. Contoh di antara beberapa nubuat yang belum digenapi adalah tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, hari kiamat, dll.

Dua dari tiga hal di atas (point nomor 1 dan 2) akan menjadi bagian terpenting dan banyak dibicarakan dalam pelajaran ini. Belajar mengenai nubuat dan kegenapannya tidak kalah penting dari topik-topik lainnya dalam Alkitab. Menurut hemat saya, sangat sedikit di antara kita, orang Kristen yang mempelajari topik ini. Tetapi yang jelas belum terlambat bagi kita untuk mempelajarinya. Oleh karena itu, saya mengajak kita semua untuk menyimak dengan seksama topik bahasan ini.

Sebelumnya, penting bagi kita untuk mengetahui pengertian kata NABI dan NUBUAT. Istilah nabi dan nubuat merupakan dua hal yang tidak terpisahkan satu sama lain. Tetapi apakah ‘nabi’ dan’nubuat’ itu? Jawaban untuk pertanyaan ini akan menolong kita mengenal mana catatan dalam Alkitab yang dimaksud dengan nubuat dan apa saja yang termasuk dalam nubuat.

Kata ‘nabi’ yang dalam bahasa Ibrani juga adalah ‘nabi,’ secara harfiah berarti ‘pembicara’ dan ‘pelihat.’ Kedua arti kata nabi ini sering digunakan silih berganti (1 Samuel 9:9; 2 Raja 17:13; Yesaya 29:10; 30:10; Mikha 3:6-7). Seorang nabi disebut sebagai ‘pembicara’ karena ia bertugas untuk mengumandangkan firman Allah kepada pendengar yang dimaksud. Dalam penyampaiannya, seorang nabi sering kali mengatakan, “Dengarlah ... sebab Tuhan berfirman ...” (Yesaya 1:2), ”...demikianlah firman Tuhan, ...” (Yeremia 4:1), dll. Seorang nabi disebut juga ‘pelihat’ karena kadang-kadang mereka menerima pengetahuan akan kehendak Allah melalui mimpi, penglihatan (bdg. Yehezkiel 1:4-28; Zakharia 1-6).[1]

Kata “nabi” menunjuk pada seorang yang telah ditetapkan Allah untuk menyampaikan firmanNya. Seorang yang berbicara untuk Tuhan, seorang pembicara yang dipilih Allah untuk menerima dan menyatakan sabda Allah, meskipun berita itu kadang-kadang menyakitkan pendengarnya.[2]

Seorang nabi bukan hanya menyampaikan firman Allah kepada orang lain, tetapi juga kadang-kadang firman Tuhan untuk dirinya sendiri (Keluaran 3:10,12,14; Yeremia 1:4,7,9, dll). Jadi dapat dikatakan bahwa nabi adalah seorang juru bicara Allah, atau penyambung mulut Allah untuk mengatakan kehendak-Nya kepada manusia. Tetapi perlu diketahui juga bahwa Alkitab membedakan nabi dalam dua kelompok, yaitu nabi Allah atau nabi yang benar dan nabi palsu (1 Raja 18:22; Matius 24:24; 1 Yohanes 4:1; dll).

Bagaimanakah mengenali mana nabi Tuhan dan nabi palsu? Dalam Ulangan18: 19-22, Allah melalui Musa memberikan ciri-cirinya. Nabi yang benar: (1) Tuhan yang menaruh perkataan (firman) dalam mulutnya; (2) Hanya mengatakan yang diperintahkan Tuhan kepadanya; (3) Dia berbicara demi nama Tuhan; (4) Apa yang dikatakannya benar-benar terjadi (bdg. Yesaya 28:9). Nabi Palsu: (1) Terlalu berani berbicara demi nama Tuhan; (2) Dia mengucapkan perkataan yang tidak difirmankan Tuhan; (3) Berbicara demi nama allah lain; (4) Perkataannya tidak terjadi.

Dalam mendefinisikan kata ‘nubuat’ tentu saja tidak akan sulit lagi bagi kita sebab kita sudah mengetahui dengan jelas apa arti ‘nabi,’ yang masih berhubungan dengan kata nubuat. Kata ‘nubuat’ menunjuk pada berita apa pun yang diberikan oleh Allah untuk disampaikan kepada manusia oleh seorang nabi sebagai wakil Allah. Berita (firman) ini datang melalui pewahyuan, penglihatan dan langsung dari mulut Allah. Berita yang disampaikan nabi itu berhubungan dengan peristiwa masa lampau, masa sekarang dan juga masa yang akan datang.[3] Yesaya 42:9 mengatakan, “Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Ku-beritahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.”

Perlu saya tambahkan disini bahwa ada perbedaan antara istilah ‘nubuat’ dan ‘ramalan.’ Nubuat adalah berita yang pasti akan terjadi, sedangkan ramalan belum pasti terjadi. Istilah ramalan biasanya digunakan untuk memperkirakan keadaan cuaca atau nasib orang lain. Tidak pernah istilah nubuat dipergunakan untuk kedua hal itu. Istilah nubuat hanya dipakai untuk hal rohani.

Jadi kesimpulannya “nabi” adalah “jabatan” yang diberikan oleh Allah kepada seseorang yang dipercaya untuk melakukan kehendak Allah, dan “nubuat” adalah “tugas” yang dipercayakan kepada seorang nabi untuk dilakukan sepenuhnya.

Nubuat-nubuat dalam Alkitab yang akan kita bicarakan dan menjadi fokus utama kita adalah nubuat tentang bangsa, nubuat tentang kota, nubuat tentang orang, dan nubuat Yesus Kristus.

I. Nubuatan Tentang Bangsa

Allah berseru, “Marilah mendekat, hai bangsa-bangsa, dengarlah, dan perhatikanlah, hai suku-suku bangsa! Baiklah bumi serta segala isinya mendengar, dunia dan segala yang terpancar dari padanya” ( Yesaya 34:1; bdg. 41:1; 43:9). Ini menunjukkan bahwa Allah memperhatikan semua bangsa di muka bumi ini dan menghendaki mendengarkan firman-Nya tentang mereka. Sehubungan dengan itu, kita akan melihat beberapa nubuatan mengenai bangsa-bangsa dan juga kegenapannya mengenai mereka, baik yang tercatat di dalam Alkitab maupun yang tercatat di dalam sejarah dunia.

A. Israel

Bangsa Israel adalah keturunan Abraham melalui anaknya, Ishak dan cucunya, Yakub. Ketika Abraham masih berada di kampung halamannya, Ur-Kasdim, Allah berfirman supaya Abraham meninggalkan negerinya itu menuju negeri (bangsa Kanaan) yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi miliknya (dan milik keturunannya) (Kejadian 15:7, 8, 18-21). Dan Allah berjanji bahwa Abraham akan menjadi sebuah bangsa besar (Kejadian 12:1-3). Kemudian Allah mengulangi janji-Nya itu kepada Abraham (Kejadian 15:5). Kemudian Allah bernubuat bahwa keturunannya (bangsa Israel) akan menjadi orang asing, diperbudak, dan dianiaya selama 400 tahun oleh Mesir (Kejadian 15:13), tetapi ketika mereka berhasil keluar dari Mesir, bangsa Israel akan membawa serta banyak harta Mesir (Kejadian 15:14).

Kisah Yusuf merupakan awal dari kegenapan nubuat Tuhan ini (Kejadian 37, 39-45), kemudian diikuti oleh pindahnya Yakub dan seluruh kaum keluarganya yang berjumlah 70 jiwa ke Mesir sebagai orang asing (Kejadian 46-50; bdg. Keluaran 1:1-5).

Setelah kematian Yakub, juga Yusuf dan saudara-saudaranya, orang Israel masih tetap tinggal di Mesir dan jumlah mereka bertambah banyak, dan bahkan berlipat ganda sehingga memenuhi negeri Mesir (Keluaran 1:6,7).

Suasana kehidupan tenteram dan damai yang dinikmati bangsa Israel di tengah-tengah orang-orang Mesir pada zaman Yusuf berubah 180 derajat. Hal ini disebabkan oleh masalah politik di Mesir (bdg. Keluaran 1:8).

Menurut sejarah, Firaun yang memerintah pada zaman Yusuf adalah dinasti Hyksos yang berasal dari suku Amori (salah satu suku Kanaan). Pada umumnya para Firaun dari dinasti Hyksos ini berlaku baik pada rakyatnya, bahkan bisa memberikan sebuah jabatan kepada orang-orang tertentu dari antara rakyat. Itu terbukti saat Yusuf diangkat menjadi salah seorang petinggi kerajaan Mesir yang tersohor di seluruh dunia pada zamannya. Kepemimpinan dinasti ini tidak diterima seratus persen oleh penduduk Mesir asli. Mengapa? Disamping dinasti ini adalah orang asing (Amori), juga karena mengadopsi banyak budaya Mesir dan kemudian menganggapnya sebagai budayanya, salah satu di antaranya adalah gelar Firaun bagi raja. Di mata orang Mesir, hal ini adalah pelecehan budaya. Dengan alasan inilah muncul semangat patriotisme orang-orang Mesir untuk menjatuhkan dinasti Hyksos. Akhirnya, kepemimpinan dinasti Hyksos berhasil direbut oleh penduduk Mesir asli.[4] Hal ini dikuatkan oleh Keluaran 1:8, “Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf.”

Kebencian bercampur sifat angkuh orang-orang Mesir terhadap dinasti Hyksos sebagai orang asing yang telah melecehkan budaya mereka, berimbas pula kepada orang Israel yang saat itu berada di Mesir sebagai orang asing juga. Karena sikap prejudis yang dimiliki oleh Mesir, perkembangan orang Israel secara kuantitas dianggap sebagai ancaman serius bagi kekokohan kerajaan Mesir yang baru dipimpin oleh penduduk asli (Keluaran 1:9,10). Akhirnya, bangsa Israel, sebagai korban akibat tindakan politik Hyksos yang ditentang oleh orang Mesir, harus menerima pil pahit penderitaan, penganiayaan, dan perbudakan sesuai nubuat Tuhan (Keluaran 1:11-22; Kejadian 15:13). Setelah genap masa perbudakan selama 400 tahun, maka bangsa Israel keluar dari Mesir dengan kuasa tangan Tuhan. Mereka bukan saja berhasil keluar, namun mereka juga membawa banyak harta dari Mesir (Kejadian 11:2,3; Kejadian 15:14).

Setelah bangsa Israel beralih dari kerajaan Teokrasi menjadi kerajaan Monarki, dengan tiga raja pertama yang memerintah Israel Bersatu, Saul, Daud dan Salomo, khususnya di akhir pemerintahan Salomo, kembali nabi Tuhan, Ahia bernubuat tentang terpecahnya kerajaan Israel menjadi dua kerajaan yang independen: 10 suku akan dipimpin oleh Yerobeam dan 2 suku akan tetap dipimpin oleh keturunan Daud (1 Raja 11:29-39). Nubuat ini pun tergenapi tidak lama kemudian dalam 1 Raja 12:1-20). Yerobeam berhasil menjadi raja pertama atas Israel Utara (Israel), sedangkan Rehabeam hanya menjadi raja atas Israel Selatan (Yehuda).

Setelah dari bangsa Israel terbentuk dua kerajaan independen, Alkitab masih terus mencatat nubuat-nubuat tentang keduanya. Berikut ini kita akan melihat secara khusus, baik nubuat tentang Israel Utara maupun Yehuda.

B. Israel Utara

Alkitab mencatat sejarah perjalanan kerajaan Israel Utara (untuk membedakannya dengan kerajaan Israel yang pernah dipimpin oleh 3 raja pertama, Saul, Daud dan Salomo) yang dari segi rohani terlihat bobrok di hadapan Allah. Dari 20 raja (terdiri dari 9 dinasti (garis keturunan) yang berbeda) yang pernah memerintah atas Israel Utara, tidak satu pun yang benar kelakuannya di hadapan Allah. Dua hal yang disoroti keras oleh Allah adalah penyelewengan sistem penyembahan yang benar dan juga keimmoralan hidup baik pemimpin maupun rakyatnya. Sejak Yerobeam menjadi raja pertama atas Israel Utara, dia membuat gebrakan baru di bidang keagamaan. Yerobeam membentuk sebuah sistem penyembahan yang baru alias palsu, yang ciri adalah : (1) Obyek penyembahan: Patung anak lembu jantan dari emas (1 Raja 12:28), (2) Tempat penyembahan: Betel dan Dan Utara, karena di dua tempat inilah dua patung anak lembu jantan itu ditempatkan (1 Raja 12:29,30), (3) Imam-imam yang melayani:Dari kalangan rakyat biasa, bukan orang Lewi (1 Raja 12:31), (4) Tanggal Hari Raya: Sama dengan tanggal hari raya di Yerusalem, hari kelima belas bulan kedelapan (1 Raja 12:32), (5) Korban persembahan: Sama dengan korban yang dipersembahkan di Yerusalem ( 1 Raja 12:32-33). Bahkan Yerobeam juga mendirikan kuil-kuil dan bukit-bukit pengorbanan kepada dewa-dewa asing (1 Raja 12:31). Pola penyembahan yang telah dibentuk oleh Yerobeam tetap dipertahankan oleh raja-raja Israel berikutnya. Itu terlihat jelas dari pernyataan “menurut tingkah laku Yerobeam” (1 Raja 15:34; 16:7; dll). Ini berlangsung di sepanjang perjalanan sejarah Israel Utara. Kitab Hosea menggambarkan dengan jelas perbuatan-perbuatan jahat Israel Utara, yang berzinah secara rohaniah.

Tindakan bangsa Israel Utara ini sangat menyakitkan hati Allah dan tidak bisa ditolerir lagi oleh Allah, sehingga melalui nabiNya, Ia menyatakan kehancuran Israel Utara. Nabi Hosea menubuatkan bahwa bangsa Israel Utara akan dibawa tertawan ke Asyur (Hosea 7:11; 11:5). Demikian juga Amos menubuatkan kebinasaan Israel (Amos 3: 9-11; 7:17). Hal ini benar-benar tergenapi pada masa pemerintahan raja terakhir Israel Utara, Hosea, di bawah pimpinan raja Salmaneser, Asyur maju menyerang Samaria, ibukota Israel Utara dan menawan orang-orang Israel ke pembuangan di Asyur (2 Raja 17:1-6).

C. Yehuda

Yehuda menjadi kerajaan independen setelah terpecahnya kerajaan Israel Bersatu. Sejarah perjalanan bangsa Yehuda merupakan yang paling banyak tercatat di dalam Alkitab dibandingkan dengan bangsa Israel Utara. Tentu saja demikian karena bangsa Yehuda masih bertahan selama kira-kira 116 tahun setelah kehancuran Israel Utara pada tahun 722 atau 721 SM.

Bangsa Yehuda dipimpin oleh 20 raja, yang semua dari keturunan Daud. Di antara raja-raja Yehuda ini ada beberapa yang baik, mengikuti perintah-perintah Allah dan ini juga mempengaruhi rakyat Yehuda untuk mengikutinya, sedangkan sebagian lagi sama jahatnya seperti raja-raja di Israel Utara, bahkan ada yang lebih jahat, di antaranya: Ahas, Manasye dan mungkin juga Amon, yang mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada dewa-dewa (2 Tawarikh 28:3; 33:6; bdg. Yeremia 7:30-32). Raja-raja Yehuda yang terkenal baik adalah Asa, Yosafat, Hizkia, dan Yosia. Meskipun Allah tidak mengabaikan perbuatan-perbuatan baik bangsa Yehuda, namun Ia tidak bisa menahan murka-Nya atas kejahatan-kejahatan mereka. Melalui nabi Yeremia, Allah menubuatkan tentang kehancuran Yehuda. Yehuda akan diserang oleh Babilonia di bawah pimpinan raja Nebukadnesar (Yeremia 25:9), negeri Yehuda akan menjadi puing-puing reruntuhan dan menjadi tempat yang tandus (Yeremia 25:11), Rakyat Yehuda akan ditawan ke Babilonia dan akan diperhamba selama 70 tahun di sana (Yeremia 25:11). Hizkia pernah melakukan kesalahan fatal, yaitu dia menunjukkan segala kekayaan yang dimiliki Yehuda, termasuk perkakas-perkakas suci di Bait Allah. Atas tindakan ceroboh Hizkia ini, nabi Yesaya menegurnya sekaligus menubuatkan bahwa apa yang telah diperlihatkannya kepada utusan Babel itu akan dibawa ke Babilonia (Yesaya 38:1-38:8; bdg. 2 Tawarikh 32:24-32).

Nubuat ini tergenapi ketika raja Nebukadnesar dari Babilonia menyerang dan menghancurkan Yehuda, membawa seluruh perkakas rumah Tuhan dan harta benda istana serta menawan orang-orang Yehuda dalam tiga tahap, yakni tahun 606 atau 605 tahap I (2 Raja 23:36-24:7; 2 Tawarikh 36:5-8; Daniel 1:1-2); tahun 598 atau 597 tahap II (2 Raja 24:8-17; 2 Tawarikh 36:9-10) dan tahun 588 atau 586 SM tahap III (2 Raja 24:18-20; 25: 8-21; 2 Tawarikh 36:11-21; Yeremia 39:8-10; 52:1-30). Peristiwa penawanan ini sekaligus mengakhiri kisah perjalanan sejarah bangsa Yehuda.

D. Mesir

Mesir adalah salah satu bangsa terkaya pada zaman purbakala. Sungai Nil merupakan kunci kemajuan Mesir di bidang pertanian. Kemajuan Mesir lainnya adalah di bidang ilmu pengetahuan yang melampaui bangsa-bangsa sezamannya. Kemajuannya antara lain, di bidang perbintangan, matematika, seni ukir, arsitektur.[5] Sejarah kemajuan Mesir di bidang pertanian mulai tercatat di dalam Alkitab ketika Abraham pergi ke Mesir untuk keperluan pangan, karena di Kanaan terjadi kelaparan hebat (Kejadian 12:10). Kemudian puncaknya pada zaman Yusuf, Mesir adalah satu-satunya kerajaan sebagai sumber pangan bagi seluruh dunia (Kejadian 41:37-57).

Sehubungan dengan perbudakan yang akan terjadi atas bangsa Israel oleh Mesir, maka Allah menubuatkan kepada Abraham bahwa Mesir akan mengalami malapetaka besar (Kejadian 15:14). Dan hal itu tergenapi dalam kitab Keluaran 7-12, Mesir menderita 10 tulah. Dengan peristiwa ini, Mesir belum runtuh. Mesir masih tetap eksis sebagai kerajaan yang kokoh dan makmur. Di tengah-tengah kemuliaan Mesir, nabi Allah, Yehezkiel menubuatkan bahwa bangsa Mesir akan diserahkan di antara bangsa-bangsa (Yehezkiel 29:12), meskipun Mesir akan pulih kembali sebagai kerajaan namun tidak akan memerintah atas bangsa-bangsa lain, bahkan Mesir akan menjadi kerajaan yang paling lemah (Yehezkiel 29:13-15). Tidak akan ada lagi pemimpin di Mesir (Yehezkiel 30:13). Pada saat Yehezkiel dan juga Yesaya bernubuat, Mesir adalah bangsa yang memang kuat secara ekonomi (Yehzkiel 30:12; Yesaya 19:5-8; 20).

Kegenapan dari nubuat ini terbukti setelah penawanan orang Israel ke Babilonia, dimana Mesir tidak lagi dipimpin oleh pemimpin yang berasal dari Mesir, melainkan berdasarkan catatan sejarah, dipimpin oleh Persia, Yunani, Romawi, Arab, Turki, Prancis dan Inggris.[6]

E. Babilonia

Menurut penulis kitab Kejadian, Nimrod, “seorang pemburu yang gagah perkasa” yang mendirikan Babel sebagai sebuah kerajaan (Kejadian 10:9,10). Kerajaan Babilonia didirikan oleh pemimpin-pemimpinnya yang ambisius. Pembangunan menara Babel menunjukkan sikap memberontak untuk memuaskan diri sendiri dari manusia melawan Allah (Kejadian 11:9). Di bawah pemerintahan raja Hamurabi (mungkin sama dengan “Amrafel” dalam Kejadian 14:1), seorang Amori, Babilonia mencapai kejayaan pertamanya sebagai penguasa dunia. Kemajuan di bidang perbintangan, philology, lexicography, matematika, dan ilmu sihir merupakan bukti kemasyuran Babilonia pada periode ini.[7] Kemudian setelah beberapa abad berikutnya muncul seorang raja baru bernama Nebukadnezar, yang membawa kembali Babilonia mencapai puncak kejayaannya. Nebukadnezar membangun kembali Babilonia menjadi sebuah kerajaan yang kuat dan makmur.

Berdasarkan hasil penemuan para ahli purbakala, Babilonia memiliki tembok kota yang tingginya mencapai 300 kaki dengan tebal kira-kira 8 kaki dan membentang dari sejauh 40 sampai 50 mil mengelilingi kota itu. Keindahan arsitektur tembok kota Babilonia dilengkapi oleh pintu gerbang Ishtar yang elok. Disamping itu juga, jalan-jalannya terdiri dari trotoar yang terbuat dari batu. Taman tergantung yang dimiliki Babilonia menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.[8]

Pada saat Yesaya bernubuat, Babilonia hanya sebuah bangsa yang masih lemah di antara sejumlah bangsa yang berkuasa. Yesaya menubuatkan bahwa Media akan datang melawan Babilonia (Yesaya 13:17), Babilonia akan ditunggangbalikkan (Yesaya 13:19), tidak akan dihuni lagi (Yesaya 13:20-23), akan dijatuhkan ke bumi (Yesaya 14:2; bdg. 14:4-28). Selanjutnya pada saat Yeremia bernubuat, Babilonia telah mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan adi kuasa. Yeremia bernubuat bahwa Babilonia akan menjadi tempat yang tandus selamanya (Yeremia 51:26), tidak akan ada orang yang akan tinggal di sana (Yeremia 51:43; bdg. 25:12-14; 50).

Apa yang dinubuatkan oleh Yesaya dan Yeremia tentang kehancuran Babilonia tergenapi ketika kerajaan Medo-Persia menjadi penguasa dunia. Hal ini juga sekaligus menggenapi nubuat Daniel yang mengartikan mimpi Nebukadnezar mengenai kerajaan yang akan berkuasa setelah Babilonia (Daniel 2:32,38,39). Kerajaan Babilonia ditaklukkan oleh Medo-Persia dan itulah akhir dari kekuasaan kerajaan Babilonia (Daniel 9-11).

F. Edom

Edom adalah nama yang diberikan kepada Esau yang arti “merah.” Kemudian Edom dipertahankan oleh keturunan Esau untuk menjadi nama bangsa mereka. Esau dan keturunannya menduduki daerah pegunungan Seir (Kejadian 32:3; 36:8) setelah merebutnya dari orang Hori yang lebih dahulu menduduki pegunungan itu. Seir sama artinya dengan Esau, “berbulu” (Kejadian 25:25). Kemungkinan besar Seir ditujukan pada Esau yang terkenal dengan tubuhnya yang berbulu. Alkitab sering menggunakan Edom dan Seir silih berganti untuk menggambarkan wilayah pegunungan yang diduduki oleh keturunan Esau ini. Daerah pegunungan yang diduduki bangsa Edom tingginya mencapai 2000 kaki di atas permukaan laut dengan tebing yang terjal dan jurang yang dalam. Keadaan ini sangat menguntungkan bangsa Edom untuk mempertahankan daerah mereka dari serangan musuh-musuh. Bozra yang merupakan kota metropolis Utara juga sebagai ibukota bangsa Edom. Bozra terkenal dengan industri tenunan dan juga pakaian celup yang biasanya diekspor. Disamping itu, kekayaan lain yang dimiliki Edom di Bozra adalah bangunan-bangunan puri yang indah (Amos1:12). Edom juga terkenal dengan perkebunan sayurnya yang menjadikannya makmur.[9]

Edom meskipun berhubungan darah dengan bangsa Israel, namun keduanya tidak pernah akur satu sama lain. Ketidakharmonisan ini sudah terjadi sejak adanya konflik pribadi antara Esau dan Yakub sebagai nenek moyang kedua bangsa ini. Ketika bangsa Israel keluar dari tanah perhambaan, Mesir dan meminta untuk melewati daerah bangsa Edom, tetapi menolaknya. Kemudian pada zaman pemerintahan Saul dan Daud atas Israel juga terjadi peperangan antar kedua bangsa ini.

Melalui kitab Obaja kita dapat melihat dengan jelas bagaimana sikap bangsa Edom yang arogan dan mementingkan diri sendiri. Alasan sikap Edom ini sangat murah, yakni hanya karena mengandalkan keberadaannya yang strategis di atas pegunungan (Obaja 1:3,4). Selanjutnya, ketika bangsa Yehuda, saudaranya dalam bahaya serangan musuh, Edom hanya menjadi penonton dan bersukacita atas kehancuran Yerusalem, dan bahkan menghadang orang-orang Yehuda yang luput dari kejaran musuh (Obaja 1:11-14). Menurut sejarah pada saat Nebukadnesar melakukan invasi (penyerangan) ke Palestina selatan, Edom ikut membantu Babilonia melawan Yehuda dan Yerusalem.[10] Oleh karena itulah Obaja bernubuat bahwa Edom akan dibuat menjadi bangsa kecil di antara bangsa-bangsa (Obaja: 2), akan diperangi (Obaja 1:1), orang-orang bijaksana dan para pahlawannya akan dilenyapkan (Obaja 1:8,9), Harta bendanya akan diambil semuanya (Obaja 1:5-7), akan dilenyapkan untuk selamanya (Obaja 1:10).

Kegenapan nubuat Obaja ini terlihat ketika pada tahun 300 SM kerajaan Nabatean Arab merebut wilayah Edom atau dikenal dengan Idumea pada zaman Hellenis. Menjadikan Petra (Sela) sebagai ibukota kerajaan Nabatean. Dan pada zaman Makkabe, orang-orang Idumea yang masih tersisa dipaksa oleh orang-orang Yahudi untuk bergabung ke dalam kelompok Makkabe dan juga harus menganut Yudaisme. Keluarga Herodes yang pernah menjadi pemimpin di Palestina di bawah mandat pemerintah Romawi adalah keturunan Edom. Setelah kehancuran Yerusalem pada tahun 70 SM, Edom lenyap identitas nasionalnya.[11]

G. Asyur

Asyur adalah sebuah negeri yang berbatasan dengan pegunungan Ararat di Armenia (utara), daratan tinggi Media (timur), sungai Zab bawah (selatan), dan melalui Tigris sampai ke Laut Tengah (barat). Sejarah Asyur berawal pada milenium ketiga SM. Ibukota kerajaan Asyur yang sangat terkenal adalah Niniwe (bdg. Kejadian 10:11). Asyur mencapai puncak perluasan wilayah kekuasaan mulai dari Teluk Persia sampai ke Laut Tengah pada tahun 700 SM atau pada zaman pelayanan nabi Yesaya. Masuknya Asyur dalam kancah percaturan politik dunia, ditandai dengan menyusulnya kemunduran kerajaan Babel di bawah kekuasaan dinasti Hammurabi pada abad 16 SM. Raja-raja Asyur seperti Tiglat-Pileser I, Ashurbanipal II, Salmaneser III, Tiglat- Pileser III, Salmaneser IV, Sargon II, Sanherib, Esarhaddon, dan Ashurbanipal sangat berperan penting dalam membawa Asyur menjadi penguasa dunia. Salah satu sistem politik yang diterapkan oleh Asyur adalah menempatkan para gubernur di wilayah yang mereka telah taklukkan. Israel Utara takluk kepada Asyur di bawah pemerintahan raja Salmaneser IV dan Sargon II pada tahun 722 SM. Kemudian Sanherib ingin juga merebut wilayah Yehuda, namun dihentikan oleh Tuhan (2 Raja 19:35-36).[12]

Tuhan melalui nabi Yesaya menubuatkan bahwa Asyur akan dihancurkan karena perlakuan kejamnya atas umat-Nya (Yesaya 14:24-27) dan Nahum menubuatkan lebih spesifik tentang kehancuran Niniwe, ibukota Asyur yang akan kita bahas secara terpisah berikutnya (Nahum 1-3).

Di bawah pemerintahan Ashurbanipal gejala kejatuhan Asyur sudah terlihat dari pemberontakan Mesir. Setelah kematiannya, Asyur semakin mendekati ujung tanduk di bawah pimpinan raja Assuretililani, dan pada pemerintahan Sinsariskun kerajaan Asyur jatuh oleh serangan yang dilancarkan duo-kekuatan bersatu dari pasukan gubenur Babilonia, Nabopolasar dan pasukan Kyaxeres dari Media.

II. Nubuatan Tentang Kota

A. Tirus

Tirus adalah sebuah kota pantai sejak dari zaman purba, yang tertata luar biasa rapi. Di samping itu juga ada sebuah pulau berkubu kira-kira 3/4 mil jauhnya dari pantai kota Tirus.

Dalam Yehezkiel pasal 26 dinubuatkan tetang kehancuran kota Tirus. Setidaknya ada 6 hal sehubungan dengan itu: (1) Banyak bangsa yang akan melawan Tirus (ayat 3); (2) Tirus akan diratakan dengan tanah dan akan menjadi gunung batu (ayat 4, 8-12); (3) Akan menjadi tempat para nelayan membersihkan pukat (ayat 5a); (4) Akan dijarah oleh bangsa-bangsa (ayat 5b, 12a); (5) Penduduknya akan ditewaskan dengan pedang (ayat 6); (6) Bangsa Babilonia yang akan menghancurkan kota Tirus (ayat 7,8); (7) Tembok-tembok kotanya akan dirobohkan (ayat 12); (8) Batu, kayu dan tanahnya akan dibuangkan ke dalam air (ayat 13); (9) Tirus tidak akan pernah dibangun kembali (ayat 14).

Nubuat ini tergenapi beberapa tahun kemudian. Pada tahun 586 SM, raja Nebukadnezar dari Babilonia menyerang dan memerangi kota Tirus. Nebukadnezar menghancurkan kota utama Tirus, kecuali pulau berkubu yang terletak 3/4 mil dari pantai. Setelah perang selama 13 tahun, akhirnya pada tahun 573 SM Nebukadnezar berhasil menaklukkan kota Tirus.[13] Alasannya, pulau itu terjaga dengan kokoh, sebab banyak penduduk kota Tirus yang telah pindah ke pulau ini sebelum serangan Babilonia. Pulau berkubu ini tetap kokoh dan tidak berubah selama kira-kira 241 tahun.[14] Tetapi kemudian datang serangan berikutnya dari Alexander Agung, raja Kerajaan Makedonia (Yunani) yang menggenapi sepenuhnya nubuat yang diucapkan oleh nabi Yehezkiel itu. Pada tahun 332 SM, Alexander Agung menyerang kota berkubu ini dengan membangun sebuah jalan penyeberangan dari kota Tirus ke pulau ini, menggunakan batu-batu dan sisa-sisa reruntuhan kota Tirus.[15]

B. Niniwe

Niniwe adalah sebuah kota metropolis dunia purba yang didirikan oleh Nimrod (Kejadian 10:11,12). Niniwe terletak di pinggir sungai Tigris dan menjadi ibukota kerajaan Asyur. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa Niniwe memiliki tembok yang panjangnya kira-kira 60 mil mengelilingi kota itu dan populasi penduduknya yang mencapai 600.000 jiwa. Dalam kota ini terdapat bangunan-bangunan kerajaan yang indah dan besar dan perpustakaan terbesar dunia kuno.[16]

Nubuat tentang kehancuran kota Niniwe dikumandangkan oleh nabi Nahum dan Zefanya. Niniwe akan rusak (Nahum 3:7), dan akan menjadi tempat sunyi sepi, kering seperti padang gurun (Zefanya 2:13). Kegenapan nubuat ini terjadi pada tahun 612 SM, ketika Babilonia menghancurkan Niniwe.

C. Yerusalem

Kota Yerusalem, disamping menarik, menyimpan segudang sejarah yang menakjubkan dalam Alkitab dan juga dalam catatan sejarah dunia. Sejarah pendudukan Yerusalem dimulai pada tahun 2.500 SM.[17] Penduduk awal kota ini adalah orang Salem, dengan rajanya Melkisedek (Kejadian 14:18), yang berasosiasi baik dengan Abraham (Kejadian 14:17-21). Kemudian diambil alih oleh salah satu suku Kanaan, Yebus (Yosua 9:1; 10:1). Selanjutnya ditaklukkan oleh Daud dan menjadikan kota ini sebagai ibukota kerajaannya (2 Samuel 5:6-10) dan juga raja-raja Yehuda, setelah kerajaan Israel Bersatu terpecah dua. Disamping itu juga Yerusalem menjadi pusat keagamaan bagi bangsa Israel sejak dari zaman Salomo (1 Raja 8:1; 2 Tawarikh 5:2), terus sampai pada zaman kehancuran kota ini oleh serangan Babilonia (2 Tawarikh 36:7-21). Kemudian setelah lewat 70 tahun masa pembuangan bangsa Yehuda, Yerusalem kembali dijadikan sebagai pusat keagamaan oleh penganut Yudaisme sampai zaman Kristus. Yerusalem bagi orang Yahudi adalah kota suci.

Nubuat yang paling mengagumkan tentang Yerusalem oleh Yesaya dan Mikha adalah gereja Tuhan akan berdiri di sana (Yesaya 2:2-3; Mikha 4:1-2). Kegenapannya dapat kita baca dalam Kisah Para Rasul 2.

D. Betlehem

Kota Betlehem pertama kali disebut menyusul kematian Rahel setelah melahirkan Benyamin (Kejadian 35:19). Betlehem artinya “rumah roti.” Betlehem adalah kampung halaman Daud dan juga dia diurapi sebagai raja Israel oleh Samuel di sini (1 Samuel 16:1-13,18; 17:12). Betlehem adalah padang penggembala tradisional (bdg. 1 Samuel 17:15; Lukas 2). Dengan membaca cerita dalam 2 Samuel 23:14-17, kita akan melihat bagaimana Daud sangat mencintai Betlehem, kampung halamannya itu.[18]

Nabi Mikha menubuatkan bahwa Betlehem akan menjadi tempat lahirnya Sang Juruselamat dunia, Yesus Kristus (Mikha 5:1). Dan itu tergenapi dengan lahirnya Yesus di Betlehem yang tercatat dalam Matius 2:1-6).

III. Nubuatan Tentang Orang

A. Yesus

Orang pertama yang dinubuatkan dalam Alkitab adalah Yesus. Oleh penulis kitab Kejadian Ia disebut sebagai “keturunan perempuan” (Kejadian 3:15). Kepada orang Israel, Musa menyebut-Nya “Nabi” yang akan dibangkitkan dari tengah-tengah orang Israel (Ulangan 18:15). Kepada Daud, Tuhan menyebut-Nya “Raja” yang akan memerintah selamanya (2 Samuel 7:13,14). Yesaya menyebut-Nya seorang anak laki-laki, nama-Nya Imanuel yang akan lahir dari seorang anak darah (Yesaya 7:14). Yesaya juga melanjutkan nubuat tentang Yesus yang disebutnya “Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja Damai” (Yesaya 9:5), dan masih banyak lagi nubuat lain yang ditujukan pada Yesus. Ada kira-kira 300 nubuat tentang Yesus dalam Alkitab.

Setelah kira-kira 4000 sampai 700 tahun SM baru digenapi nubuat-nubuat tentang Yesus ini. Kitab Matius mencatat bahwa Maria melahirkan bayi Yesus yang dikandungnya oleh kuasa Rohkudus, bukan sebagai hasil hubungan badani antara Maria dan Yusuf, suaminya (Matius 1:18-25). Dalam kitab Yohanes, orang-orang mengakui-Nya sebagai seorang Nabi (Yohanes 6:14) dan sebagai Raja (Yohanes 18:36; 19:14,15, 19-22). Yohanes dan juga Paulus menyatakan bahwa Yesus adalah Allah (Yohanes 1:1-3; Filipi 2:5-8). Melalui ajaran-ajaran-Nya yang menakjubkan, maka Ia telah menggenapi sebutan-Nya sebagai Penasehat Ajaib. Ia memerintah sebagai Raja dalam gereja-Nya yang penuh dengan kedamaian.

B. Yosia

Yosia adalah salah satu raja terbaik yang pernah memerintah kerajaan Yehuda. Seorang abdi Allah bernubuat kepada Yerobeam I, raja pertama Israel Utara tentang seorang anak yang akan lahir dari keluarga Daud, namanya Yosia, yang akan melakukan restorasi (pemulihan) atas seluruh tanah Israel (1 Raja 13:1-2). Setelah 300 tahun kemudian nubuat abdi Allah ini tergenapi, dengan lahirnya Yosia, anak Amon raja Yehuda dari dinasti Daud dan melakukan restorasi total atas seluruh Israel (2 Raja 22:1-23:25; 2 Tawarikh 34:1-7; 35:1-19).

C. Zedekia

Zedekia adalah raja Yehuda saat runtuhnya kerajaan itu. Nabi Yehezkiel sementara berada di pembuangan di Babel, bernubuat tentang raja Zedekia akan dibawa tertawan ke Babilonia, tetapi dia tidak akan melihat tanah itu (Yehezkiel 12:13). Bagaimana bisa terjadi, Zedekia akan dibawa tertawan tetapi dia tidak akan melihat Babilonia, apakah dia akan mati di Babilonia, sedangkan dia tidak melihat Babilonia? [19]

Dengan membaca Yeremia 39:4-7 kita akan mengetahui jawaban maksud dari nubuat Yehezkiel di atas. Setelah Zedekia berhasil ditangkap oleh tentara Babilonia di Yerikho, dia kemudian dibawa ke Ribla di tanah Hamat kepada raja Nebukadnesar. Kemudian setelah menyaksikan penyembelihan anak-anaknya, mata Zedekia pun dibutakan dan dibawa dalam keadaan buta ke Babilonia, sehingga dia tidak dapat melihat negeri Babilonia dengan matanya.

D. Koresh

Koresh adalah raja pertama Persia. Namanya telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya pada tahun 739 SM sebelum kelahirannya tahun 691 SM(Yesaya 44:28; 45:13).[20] Koresh-lah yang akan menjadi alat Tuhan untuk memulihkan kembali orang Yahudi ke kampung halaman mereka setelah genap masa 70 tahun dalam pembuangan di Babel (Yeremia 25:11; 29:10).

Kegenapan nubuat Yesaya terbukti ketika pada tahun 536 SM Persia berhasil menjadi penguasa dunia dan yang menjadi rajanya adalah Koresh. Kitab 2 Tawarikh 36: 22-23; Ezra 1:1-4 menceritakan fakta tindakan Koresh yang mengizinkan orang Yahudi pulang untuk membangun kembali Bait Allah sebagai wujud pemulihan kembali orang Yahudi seperti yang telah dinubuatkan.

E. Orang Yahudi

Yeremia bernubuat bahwa setelah genap 70 tahun umat Tuhan dalam pembuangan, mereka akan dikembalikan ke Yehuda (Yeremia 25:11; 29:10). Nubuat ini tergenapi pada zaman kekuasaan Persia. Atas dekrit yang dikeluarkan raja Persia mereka akhirnya pulang ke kampung halaman dalam tiga tahap kepulangan: Tahap I (536 SM) di bawah pimpinan Zerubabel dan imam Yesua (Ezra 1-6); tahap II (458 SM) di bawah pimpinan Ezra (Ezra 7-10); dan tahap III (445 SM) di bawah pimpinan Nehemia (Nehemia 1-13).

IV. Nubuatan Yesus

Yesus pun menyebutkan beberapa nubuat selama pelayanan-Nya di bumi, baik tentang diri-Nya sendiri, orang lain, peristiwa tertentu, dll. Di antara nubuat-nubuat-Nya, ada yang belum digenapi, dan kita hanya menantikannya dengan sabar sampai itu digenapi. Berikut ini nubuat-nubuat Yesus yang telah digenapi.

A. Penderitaan, Kematian & KebangkitanNya

Berbeda dengan nabi-nabi lain, Yesus menubuatkan tentang diri-Nya sendiri. Unik! Yesus akan menderita, diserahkan ke tangan manusia berdosa, ditolak, dibunuh oleh orang-orang Yahudi (Matius 16:21; 17:22-23; Markus 8:31; 9: 30-31; Lukas 9:22,44). Nubuat-nubuat tentang Yesus dan kegenapannya adalah yang paling menakjubkan dalam Alkitab. Empat kitab Injil mencatat secara rinci bagaimana penderitaan yang mengerikan karena siksaan, kematian yang tidak wajar dialami oleh Yesus, dan sekaligus fakta kebangkitan Yesus yang menggemparkan seluruh dunia (Matius 26-28; Markus 14-16; Lukas 22-24: Yohanes 18-21).

B. GerejaNya

Pada awal pelayanan-Nya, Yesus menubuatkan Kerajaan Surga sudah dekat (Matius 4:17; Markus 1:15). Kerajaan Surga yang dimaksud Yesus tak lain adalah gereja-Nya yang akan didirikan-Nya (Matius 16:18), yang akan datang dengan kuasa (Markus 9:1). Kegenapan nubuat Yesus ini digenapi dalam Kisah Para Rasul 2. Gereja Kristus berdiri dengan kuasa Rohkudus.

C. Kematian Yakobus dan Yohanes

Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus ini tidak mengerti sifat Kerajaan Kristus yang rohaniah, bukan kerajaan fisik seperti yang mereka pikirkan. Akibatnya mereka berambisi untuk menduduki tempat terhormat dalam kerajaan itu. Yesus mendirikan kerajaan-Nya dengan biaya yang tak ternilai mahalnya, yaitu dengan darah-Nya sendiri (Kisah Rasul 20:28). Itulah sebabnya Yesus mengatakan (bernubuat) bahwa mereka akan meminum cawan-Nya ( simbol dari penderitaan) yang mereka tanggapi positif, meskipun masih dalam pikiran yang keliru (Matius 20:20-23; Markus 10:35-40). Nubuat Yesus ini digenapi dalam Kisah Para Rasul 12:1-2, Yakobus mati dibunuh dengan pedang atas perintah Herodes Agripa I. Pada masa pemerintahan Kaisar Romawi, Domitian, Yohanes dibuang ke pulau Patmos, tempat dia menulis kitab Wahyu (Wahyu 1:9). Yahya adalah rasul Kristus yang terakhir mati mencapai usia tua (bdg. Yohanes 21:20-23).

D. Kematian Petrus

Setelah Yesus memastikan bahwa Petrus akan menjadi penggembala pengikut Kristus, Ia menubuatkan bahwa Petrus akan mengalami kematian dengan cara yang tidak wajar (Yohanes 21:15-19). Berdasarkan informasi yang diberikan oleh Origen, seorang bapa gereja bahwa Petrus mati disalib dengan posisi kepala di bawah.[21]

E. Kehancuran Bait Allah & Yerusalem

Seperti sudah kita bicarakan sebelumnya, bahwa Yerusalem adalah pusat keagamaan orang Israel sejak zaman Salomo sampai zaman Kristus. Bukti menonjol Yerusalem sebagai pusat keagamaan adalah Bait Allah. Sepanjang sejarah, keberadaan Bait Allah di Yerusalem telah mengalami tiga kali pembangunan kembali sampai pada masa pelayanan Yesus. Bait Allah pertama dibangun oleh Raja Salomo; Bait Allah kedua dibangun oleh Zerubabel dan Ezra; dan yang ketiga dibangun oleh Herodes Agung.

Pada suatu kali Yesus mengunjungi Yerusalem dan pergi ke Bait Allah yang dibangun oleh Herodes Agung ini, Ia menubuatkan bahwa Bait Allah ini akan hancur, menyusul hancurnya Yerusalem (Matius 24:1-2; Markus 13:1-2; Lukas 21:5-6). Nubuat Yesus ini digenapi ketika pasukan Romawi di bawah pimpinan jendral Titus membumi-hanguskan dan meratakan dengan tanah Yerusalem dan Bait Allah pada tahun 70 SM. Secara rohani kehancuran Bait Allah adalah simbol berakhirnya masa berlaku Hukum Taurat dan Yudaisme.

F. Munculnya mesias-mesias & nabi-nabi palsu

Yesus mengetahui ancaman besar yang akan dihadapi umat-Nya di masa akan datang apabila Ia telah meninggalkan dunia. Oleh sebab itu, Ia perlu memberi peringatan sekaligus nubuat yang berhubungan dengan ancaman itu. Dalam nubuat-Nya, Yesus mengatakan bahwa mesias-mesias dan nabi-nabi palsu, yang semuanya ditujukan pada guru-guru palsu dengan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan akan muncul (Matius 24:24-26; Markus 13:22-23).

Kegenapan dari nubuat ini terjadi tidak lama setelah gereja berdiri. Yudaisme dihidupkan kembali, sebagai syarat mutlak mendapatkan keselamatan (Kisah Rasul 15:1; bdg. Galatia 5:1-6). Yohanes menuliskan dalam surat kirimannya yang pertama bahwa guru-gugu palsu telah tersebar ke seluruh dunia (1 Yohanes 4:1).

Pada masa pelayanannya, Yohanes menghadapi bidat yang disebutnya “antikristus.” Bidat ini terdiri dari tiga kelompok: Gnostik, Doketisme dan Cerinthiarisme.[22] Demikian juga dengan Paulus menyatakan fakta munculnya rasul-rasul palsu kepada orang Kristen di Korintus (2 Korintus 11:12-15), dan masih banyak fakta lain dalam Alkitab guru-guru palsu.

G. Petrus menyangkal Yesus

Mendekati penangkapan Yesus, Yesus mengatakan bahwa iman murid-murid-Nya akan goyah. Petrus secara emosionil menanggapi perkataan Yesus ini dengan mengatakan bahwa imannya tidak akan goyah seperti murid-murid lain. Tetapi Yesus tahu bahwa Petrus tidak seperti yang dia katakan itu sehingga bernubuat bahwa ayam berkokok dua kali, Petrus telah menyangkali Yesus, meskipun dia berkeras tidak akan melakukan hal itu (Matius 26:30-35; Markus 14:26-31; Lukas 22:31-34; Yohanes 13:36-38). Nubuat Yesus ini terbukti ketika Yesus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama Yahudi, Petrus yang juga ikut menyaksikan pengadilan itu menyangkali Yesus (Matius 26: 69-75; Markus 14:66-72; Lukas 22:56-62; Yohanes 18:15-18, 25-27).

H. Mendahului murid-muridNya ke Galilea

Yesus mengatakan (nubuat) kepada murid-murid-Nya bahwa setelah kenbangkitan-Nya, Ia akan mendahului mereka ke Galilea (Matius 26:32; Markus 14:28). Nubuat ini pun digenapi dalam Matius 28:7-10, 16-17; Markus 16:7).

I. Kedatangan Rohkudus

Setelah Yesus naik ke surga, maka Rohkudus yang akan melanjutkan pekerjaan-Nya di bumi melalui Rasul-rasul-Nya. Sebelum kedatangan Rohkudus, Yesus telah menubuatkan kepada murid-murid-Nya tentang hal itu. Rohkudus yang akan membimbing rasul-rasul dalam pelayanan, terutama pada pendirian gereja yang telah dinubuatkan Yesus (Matius 16:18; Markus 9:1), menghibur dalam penderitaan mereka. Rohkudus yang dijanjikan Bapa akan turun di Yerusalem, oleh sebab itu mereka harus menantikan-Nya di sana (Yohanes 16:13; 14:26; 15:26; Lukas 24:49; Kisah Rasul 1:4,5,7,8). Nubuat ini juga digenapi dalam Kisah Para Rasul 2, Rohkudus turun ke atas mereka di Yerusalem (Kisah 2:1-5; bdg.1:12).

Nubuat-nubuat dalam Alkitab merupakan metode Allah untuk menyampaikan kehendak-Nya kepada umat manusia di muka bumi ini. Nubuat telah memberikan kesempatan bagi manusia untuk bersiap menyambut masa depan. Ada nubuat, ada kegenapannya. Dengan kata lain nubuat selalu akan berakhir dengan kegenapannya. MENAKJUBKAN!

Catatan Akhir

  1. ^ Willis, John T., My Servants The Prophets dalam seri The Way of Life no.116, ed. J.D. Thomas (Biblical Research Press, Abilene, Texas: 1971), hal. 1.
  2. ^ Cotham, Perry B., An Overview of The Minor Prophets dalam A Handbook On The Minor Prophets, ed. Eddie Whitten (Firm Foundation Publishing House, Inc., Bedford, Texas: 1998), hal. 23-24.
  3. ^ Horner, C.M.., Old Testament History -One (World Video Bible School / Video Bible Institute, Maxwell, Texas: 1986), hal. 6.
  4. ^ Waldron, Bob and Sandra, The History And Geography of The Bible Story, A Study Manual (Guardian of Truth Foundation Publications, 420 Old Morgantown Road, Bowling Green, KY: 1983), hal. 53.
  5. ^ Dickson, Roger E., The Fall of Unbelief (J.C. Choate Publications, Winona, Mississipi: 1982), hal. 408.
  6. ^ Ibid., hal. 408-409.
  7. ^ Pfeiffer, Charles F., Baker’s Bible Atlas, Revised Edition (Baker Book House, Grand Rapids, Michigan: 1979), hal. 49.
  8. ^ Dickson, Roger E., hal.409.
  9. ^ Pfeiffer, Charles F., hal.70.
  10. ^ Ibid.
  11. ^ Ibid., hal.70, 184.
  12. ^ Ibid., hal. 19,50.
  13. ^ Dickson, Roger E., hal.411.
  14. ^ Mayo, Lawson, The Minor Prophets (Four Seas College, Singapore: 2002), hal.3.
  15. ^ Dickson, Roger E., hal.411.
  16. ^ Ibid.
  17. ^ Dehoff, George W., Lands of The Bible (DeHoff Publications, Murfreesboro, TN:1985), hal.15.
  18. ^ Ibid., hal.47.
  19. ^ Moffit, Jerry, The Minor Prophets, ed. Lawson Mayo (Four Seas College, Singapore: 2002), hal. 28.
  20. ^ Dickson, Roger E., hal.412.
  21. ^ Wilson, Neil S., Tyndale Handbook of Bible Chart & Maps (Tyndale House Publishers, Inc., Wheaton, Illionis: 2001), hal. 376.
  22. ^ Dunnett, Walter M., Pengantar Perjanjian Baru (Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, Jatim: 1963), hal. 97,98.
  23. ^ Alkitab TB, LAI Jakarta 1974.