Kebenaran Bagi Dunia

Organisasi Gereja

Gereja adalah institusi atau badan yang berasal dari Allah yang diatur berdasarkan konsep Illahi. Karena itu gereja itu adalah badan surgawi yang turun ke dunia sebagi wadah calon-calon penghuni surga. Gereja bukanlah buah pikiran manusia karena itu manusia tidak memiliki wewenang untuk mengatur atau merubah organisasi gereja. Gereja didirikan oleh Yesus Kristus pada Hari Pentakosta dalam Kitab Kejadian 2 untuk menggenapi nubuatnya dari Matius 16:18, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”

Berdasarkan ayat yang di atas kita memiliki pengertian bahwa gereja itu adalah milik Kristus karena ada kataKu. Dalam bahasa Indonesia kita mengetahui kata “Ku” kata ganti empunya. Karena Kristus yang mimiliki gereja itu, maka Kristus-lah yang berhak mengatur organisasinya, bukan manusia.

Memang kalau kita mempelajari sejarah gereja khususnya 15 abad belakangan ini, kebanyakan manusia yang menjadi pemimpin-pemimpin. Gereja memiliki konsep yang salah terhadap organisasi gereja. Mereka berpikir bahwa organisasi gereja sama dengan organisasi sebuah negara. Gereja adalah institusi yang turun dari surga dan kepala gereja itu adalah Kristus (Efesus 5:23), sedangkan kepala negara adalah manusia. Jadi jelaslah bahwa kedua badan (institusi ini) tidak bisa disamakan dalam organisasi.

Organisasi gereja diatur oleh Allah dalam firmanNya, dan manusia harus mengikuti peraturan organisasi itu baik ia suka maupun tidak suka, karena itu adalah merupakan keharusan (mutlak).

Organisasi gereja Perjanjian Baru diatur oleh Tuhan dalam Perjanjian Baru, karena gereja adalah di bawah naungan Perjanjian Baru jadi kalau kita ingin mengetahui bagaimana susunan organisasi gereja, kita harus belajar dari Perjanjian Baru, karena Perjanjian Baru adalah merupakan otoritas (kuasa) Kristus yang diberikan kepada manusia untuk dipelajari agar manusia itu mengerti kehendak Allah dalam zaman Kekristenan ini atau zaman akhir ini.

Kristus Adalah Kepala Gereja (Jemaat)

Perjanjian Baru dengan jelas mengatakan bahwa Kristus adalah kepala jemaat, “Yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada” (Efesus 1:20, 22). Allah telah memberi wewenang (kuasa) kepada Kristus untuk menjadi kepala segala sesuatu. Di dalam pasal 5:23 kitab Efesus, Paulus menggambarkan kepala jemaat di Efesus bahwa Kristus adalah kepala jemaat sama dengan suami adalah kepala istri (Efesus 4:15; Kolose 2:14).

Kalau Kristus adalah kepala jemaat maka kuasa Kristus-lah yang berlaku bagi jemaat atau gereja itu. Kuasa Kristus untuk mengatur jemaatNya adalah Perjanjian Baru, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan gereja agar berkenan kepada Kristus sebagai kepala jemaat harus sesuai dengan Perjanjian Baru, segala aktivitas dalam jemaat itu harus sesuai dengan Firman Tuhan. Kita harus menghargai wewenang Kristus dengan mengikuti FirmanNya. Sebelum Yesus terangkat ke surga, Ia berkata kepada Rasul-rasulNya, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Semua kuasa adalah milik Kristus khususnya mengenai gereja, manusia tidak memiliki kuasa sama sekali atas gereja, manusia hanya mengikuti aturan-aturan gereja yang telah ditetapkan Kristus dalam Perjanjian Baru tetang gereja. Kita harus menyadari bahwa Kristus adalah Penguasa Mutlak dalam gereja karena Ia adalah kepala atau Pemilik atau Pendiri gereja. Manusia tidak memiliki hak untuk mendirikan gereja karena Kristus sendirilah yang mendirikannya, manusia tidak memiliki kemampuan untuk mendirikan gereja. Kalaupun banyak orang yang mengaku bahwa kepala gereja itu bukan Kristus melainkan Paus atau Ephorus, maka dapat kita pastikan bahwa gereja itu bukanlah gereja Kristus, gereja itu bukanlah gereja yang mengikuti Perjanjian Baru. Kita juga perlu menyadari bahwa Kristus tidak pernah mendelegasikan kuasa yang diberikan Allah Bapa kepada siapapun kecuali kepada RasulNya, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga" (Matius 16:19).

Dan kemudian kelak gereja itu akan diserahkan oleh Yesus kepada Bapa, bukan kepada manusia, “Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan” (1 Korintus 15:24).

Firman Tuhan yaitu Perjanjian Baru jelas sekali mengatakan bahwa kepala dari gereja itu adalah Kristus, tetapi sebagian orang berkata bahwa Kristus adalah kepala gereja di Surga dan sebagai wakil Kristus di dunia perlu seseorang untuk mengatur organissi gereja. Manusia boleh saja mengatakan apa saja tetapi itu tidak benar karena tidak berdasarkan Firman Tuhan. Kita tidak pernah dapat menemukan kata Paus dan kata Ephorus dalam Perjanjian Baru, dan kita harus menyadari segala kuasa baik di surga maupun di bumi adalah milik Kristus (Matius 28:18). Soal mengawasi gereja di bumi itu tidak perlu karena ada Firman Tuhan sebagai standar bagi kita untuk mengetahui apakah gereja itu palsu atau murni, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12). Dan Kristus yang adalah Illahi sangat sanggup untuk mengatur GerejaNya yang ada di bumi ini melalui FirmanNya.

Tiap-tiap Gereja Adalah Otonom

Kalau kita berbicara hak otonomi gereja berarti setiap gereja itu berdiri sendiri, tidak pernah di bawah kuasa gereja manapun seperti yang dilakukan oleh sebagian denominasi. Pada abad pertama di dalam kitab Kisah Para Rasul kita dapat menemukan bahwa setiap gereja itu adalah independent (berdiri sendiri). Gereja di Yerusalem tidak memiliki kuasa atas gereja di Roma dan gereja di Efesus tidak memiliki kuasa atas gereja di Galatia, masing-masing gereja adalah berdiri sendiri. Orang-orang yang berada di luar gereja (orang yang bukan anggota gereja) tidak memiliki kuasa atas gereja. Baik pemerintah maupun penatua adat atau Pembimas (Depag) tidak memiliki hak dalam gereja. Para penatua dan diakon dalam satu jemaat tidak memiliki kuasa untuk mengatur jemaat lain. Mereka (penatua-penatua) hanya memiliki wewenang di jemaat lokal yang mengangkat mereka menjadi penatua. Namun sesama gereja lokal memiliki tali persekutuan yang kuat dan bersatu sejauh mana gereja itu masih tetap mengikuti ajaran Kristus (Perjanjian Baru). Karena jaminan bagi gereja-gereja untuk tetap bersekutu satu sama lain adalah ajaran yang diikuti gereja-gereja tersebut. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran Kristus sekalipun mreka tidak saling kenal atau tidak saling mengetahui, namun mengikuti doktrin (ajaran) Perjanian Baru, gereja-gereja itu adalah tetap satu dan dapat bekerja sama untuk kemajuan jemaat-jemaat seperti; mengadakan retret bersama, saling bertukar pikiran, saling mendukung satu sama lain (seperti yang kita lakukan di Lampung). Meskipun jemaat-jemaat di Lampung saling mendukung kegiatan jemaat-jemaat tetapi tetap saling menghormati hak otonomi jemaat-jemaat. Memang kadang-kadang sesama pemimpin-pemimpin jemaat sering sharing atau saling bertukar pengalaman dalam menghadapi masalah-masalah di jemaat masing-masing namun keputusan tetap di tangan pemimpin jemaat yang bersangkutan. Sebagai contoh jemaat Way Kandis tidak berhak membuat keputusan untuk jemaat Hanura dan sebaliknya, jemaat Umbul Slawe tidak berhak untuk membuat keputusan untuk jemaat Alam Kari dan sebaliknya. Jemaat Natar tidak berhak untuk membuat keputusan bagi jemaat Kota Gajah dan jemaat Metro dan sebaliknya. Gereja Perjanjian Baru yang dibangun oleh Kristus adalah gereja yang menghormati hak otonom jemaat lokal, karena itulah yang berkenan kepada Kristus sebagai pemilik gereja.

Setiap Gereja Memiliki Para Penatua

Roh Kudus dengan jelas menetapkan para penatua tiap-tiap jemaat pada abad pertama melalui syarat-syarat menjadi seorang penatua secara rinci. Dan setiap gereja Tuhan harus mengikuti syarat-syarat tersebut di atas. Para penatua di tiap-tiap jemaat bukanlah ditetapkan oleh manusia melainkan oleh Roh Kudus (Kisah Rasul 20:28).

Apakah Tugas Para Penatua itu? Perjanjian Baru sebagai pola gereja Perjanjian Baru dengan jelas menyebutkan tugas-tugas para penatua antara lain:

  1. Menjaga diri sendiri dan menjaga kawanan dan anggota jemaat (Kisah Rasul 20:28).
  2. Menggembalakan jemaat itu (Kisah Rasul 20:28). Berdasarkan ayat ini kita dapat mengambil keputusan bahwa gembala jemaat adalah para penatua bukan pendeta atau penginjil seperti yang dikatakan oleh denominasi.
  3. Membantu yang lemah (Kisah Rasul 20:35). Adalah wewenang para penatua untuk mengkoordinir bantuan kepada orang-orang yang lemah dalam jemaat manapun di luar jemaat. Para penatua harus mengenal baik anggota jemaat itu.
  4. Membangun anggota jemaat dengan ajaran sehat (Titus 1:4). Para penatua harus memahami ajaran yang ditetapkan dalam jemaat oleh para guru-guru di jemaat.
  5. Meyakinkan penentang-penentangnya (Titus 1:9). Para penatua harus berusaha untuk menuntun orang-orang yang membengkang ke jalan yang benar dengan penuh perhatian dan panjang sabar.
  6. Menegur orang-orang yang hidupnya tidak tertib (1 Tesalonika 5:14). Pekerjaan menunjukkan kepada kita bagaimana para penatua itu harus cermat dan penuh perhatian untuk mengawasi dan mengamati kehidupan anggota jemaat.
  7. Menghibur mereka yang tawar hati (1 Tesalonika 5:14). Para penatua yang berkewajiban menghibur anggota jemaat yang tawar hati karena keadaan atau tersandung atas perbuatan saudara-saudara yang lain.
  8. Bersabar terhadap semua orang (1 Tessalonika 5:14). Para penatua adalah orang-orang yang sangat sabar terhadap berbagai prilaku (sikap) orang-orang yang dibimbingnya maupun orang lain yang bukan anggota jemaat
  9. Harus menjadi contoh kepada anggota jemaat di berbagai hal (1 Petrus 5:2,3). Mengunjungi orang yang sakit (Yakobus 5:14).
  10. Mengawasi jiwa-jiwa anggota jemaat (Ibrani 13:17). Para penatua bertanggung-jawab untuk memperhatikan kerohanian anggota jemaat yang dilayaninya. Berdasarkan tugas-tugas para penatua ini, kita menyadari mengapa Allah menetapkan syarat-syarat menjadi seorang penatua, karena pekerjaan seorang penatua membutuhkan dedikasi yang tinggi seperti dedikasi yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus sebagai Gembala yang Agung.

Setiap Gereja Perjanjian Baru Dewasa Harus Memiliki Diakon-diakon

Tugas para diakon tidak sejelas tugas-tugas para penatua, tetapi tanpa ragu-ragu kita mengetahui bahwa para diakon juga sama dengan para penatua adalah para pelayan dalam gereja. Di dalam Kisah Rasul 6:1-6, kita dapat melihat pengangkatan 7 diakon untuk jemaat di Yerusalem sebagai pelayan meja. Diakon dalam bahasa Yunani ditujukan kepada pelayan dalam bahasa Indonesia. Kalau penatua artinya pengawas atau pengatur maka diakon berarti pelayan. Jadi berdasarkan pekerjaan kedua pelayan jemaat ini, kita tahu bahwa baik penatua maupun diakon tidak dapat dipisah satu sama lain. Walaupun dalam Kisah Rasul 6:3 tidak begitu banyak ditulisakan syarat-syarat menjadi seorang diakon, tetapi saya percaya bahwa syarat-syarat menjadi seorang penatua juga adalah merupakan gambaran yang dapat membantu kita untuk seorang diakon kalau kita mau jujur syarat-syarat menjadi seorang penatua juga adalah merupakan ciri khas kehidupan orang Kristen yang harus dilakukan oleh semua anggota jemaat. Hanya beberapa saja dari syarat-syarat penatua itu yang tidak mengikat orang Kristen seperti:

  1. Seorang yang baru bertobat (1 Timotius 1:6)
  2. Anak-anaknya hidup beriman (Titus 1:6).

Kesimpulan

Jadi, baik penatua maupun diakon adalah orang-orang berdedikasi tinggi terhadap gereja, karena mereka inilah penatua bagi jemaat.

Jadi organisasi jemaat (gereja) itu adalah terdiri dari; Kristus sebagai Kepala gereja, Penatua sebagai pengawas gereja, Diakon sebagai pelayan meja di gereja, Penginjil sebagai pemberita injil di gereja, Anggota jemaat sebagai orang-orang yang dibina dalam gereja.