Kebenaran Bagi Dunia

Pengorbanan

Oleh Victor Nainggolan

Kata pengorbanan sering kita dengar dan bahkan kita ucapkan. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita mengetahui makna yang sesungguhnya dari kata tersebut?

Agar lebih mudah untuk memahami topik ini, maka alangkah baiknya apabila pertama-tama kita mengetahui defenisi kata tersebut.

Pengorbanan berarti tindakan seseorang yang memberikan sesuatu (benda, dsb.) yang sebenarnya sangat (masih) bermanfaat besar bagi sang pemberi (dia merasa rugi), yang diberikan sebagai tanda bakti atau kesetiaan kepada seseorang - berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi II, 1991 halaman 526. Sebab itu jelaslah bahwa semua pengorbanan adalah sesuatu yang diberikan tetapi tidak semua yang diberikan adalah pengorbanan, hanyalah pemberian yang kita berikan kepada orang lain dimana yang kita berikan itu masih sangat bermakna bagi kita, itulah yang dikategorikan sebagai pengorbanan.

Dalam Perjanjian Lama dapat kita lihat contoh-contoh korban yang dipersembahkan orang-orang Israel seperti: korban bakaran (Imamat 6:9, dst.), keselamatan (Imamat 3:1 dst), penghapusan dosa (Imamat 4:3-20), sembelihan (Keluaran 34:15). Tidak semua jenis ternak layak untuk menjadi korban yang demikian, ternak tersebut harus sehat, gemuk, tidak bercacat, muda (belum pernah dipekerjakan). Dapat diterima akal jika ternak yang berkualitas seperti yang digambarkan di atas pasti disukai sang pemilik. Dia akan merasa rugi atau kehilangan apabila ternaknya itu diberikan kepada seseorang, itulah yang disebut pengorbanan. Tetapi apabila saya memberikan sepotong kemeja kepada seseorang karena kemeja tersebut tidak saya sukai atau tidak saya pakai, maka itu bukan pengorbanan.

Dalam 1 Korintus 5:7 dinyatakan bahwa Yesus Kristus adalah korban paskah kita. Pernyataan Paulus ini sangat tepat apabila kita hubungkan dengan definisi pengorbanan yang tadi telah disinggung karena Allah Bapa hanya mempunyai satu orang Putra yang dikasihi (Yesus Kristus) yang dikorbankanNya untuk menebus dosa, karena darah lembu dan kambing itu mustahil untuk menghapuskan dosa (Ibrani 10:3, 4).

Perbuatan manusia dikelompokkan dalam empat kelompok dan salah satu diantaranya adalah perbuatan yang mulia yaitu perbuatan baik (pengorbanan) yang dilakukan seseorang terhadap orang lain.

Allah mengharapkan kita untuk melakukan perbuatan yang mulia itu ketika Dia berkata, Janganlah kamu ditewaskan oleh kejahatan melainkan tewaskanlah kejahatan itu dengan kebajikan (Roma 12:21) dan untuk memenuhi instruksi tersebut tentu kita harus berkorban.

Jikalau Allah sudah menunjukkan pengorbananNya kepada Saudara dengan mengorbankan PutraNya yang tunggal, maka dari segi moral selayaknyalah kita juga menunjukkan pengorbanan kita kepadaNya.

Berikut ini saya akan menyinggung satu hal yang sangat perlu kita benahi dalam hidup kita agar dengan melakukan hal itu kita layak dikategorikan berkorban bagi Allah yaitu Waktu.

Semua manusia mempunyai waktu yang sama yaitu 24 jam dalam satu hari-satu malam. Masing-masing kita tentu perlu mengaturnya supaya kita tidak ketinggalan didalam segala musim. Dalam kitab Pengkotbah 3:1-7, Salomo dengan bijaknya berkata bahwa ada waktu untuk segala sesuatu hal dan tinggal tergantung pribadi yang mengaturnya.

Saya melihat bahwa ada sebagian anggota jemaat yang tidak mengorbankan waktunya bagi Allah. Saya katakan demikian karena waktu yang seharusnya dipakai untuk kebaktian pada hari Minggu itu, justru dipakai untuk mengerjakan hal lainnya dan meninggalkan kebaktian yang merupakan kewajiban setiap orang Kristen. Waktu yang ada semata-mata hanya dipergunakan untuk diri sendiri dan tidak mau mengorbankan waktunya untuk mendukung program-program jemaat seperti kelas-kelas Alkitab dan program lainnya. Kita perlu mencontoh jemaat di Berea, mereka hari demi hari menyisihkan waktu untuk mempelajari Firman Allah (Kisah Rasul 17:11). Jikalau jemaat di Berea dapat melakukan hal seperti itu, mengapa kita yang mungkin hanya dua kali di dalam satu minggu mengadakan kelas Alkitab, itupun tidak bisa kita lakukan? Satu hal yang perlu kita selalu ingat bahwa Allah itu ada di tengah-tengah kita apabila kita berkumpul bersama (Matius 18:20). Walaupun ayat tersebut tidak secara langsung berarti demikian, namun secara aplikasinya begitulah artinya.

Sesudah kebangkitan Yesus dan sebelum kenaikanNya, murid-murid itu seringkali berkumpul bersama dan Thomas tidak ikut serta dalam perhimpunan itu. Thomas hilang kesempatan mendengarkan kata “sejahtera” dari Yesus (Yohanes 20:26). Apakah yang sedang kita lakukan pada saat Yesus datang kelak? Jikalau Yesus datang pada saat jemaat lokal itu berhimpun, apakah Saudara akan rela mengorbankan waktu untuk berhimpun bersama-sama dengan sidang jemaat atau hilang kesempatan untuk mendengar kata “sejahtera” dari Yesus Kristus? Hal ini sangat serius untuk direnungkan.

Contoh lain yang perlu kita pertimbangkan yang berbicara tentang hal ini adalah Abraham. Dalam Kejadian 20-22, ketika Allah memerintahkan agar dia mempersembahkan Ishak kepada Tuhan di sebuah tempat yang akan ditunjukkan Allah kepadanya, Abraham tidak banyak berkomentar. Dia mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan perintah itu dan sesudah segala sesuatu dipersiapkan, pagi-pagi buta dia pun berangkat menuju tempat yang akan ditunjukkan Allah itu.

Sesudah tiga hari perjalanan maka tibalah dia di tempat yang ditetapkan Allah. Berapa harikah Abraham meninggalkan pekerjaannya demi Allah? Setiap orang yang menjawabnya tiga hari berarti dia salah! Abraham meninggalkan pekerjaan pribadinya minimal enam hari. Memang apabila kita berpikir, dalam waktu satu hari sungguh banyak hal yang dapat kita kerjakan dan akan menghasilkan keuntungan pribadi kita, apalagi dalam waktu enam hari. Mungkin ada yang mengatakan bahwa Abraham rela saja meninggalkan pekerjaannya selama enam hari karena dia memang sudah kaya raya dan tidak perlu pusing dengan kebutuhan esok hari. Tetapi perlu diingat bahwa Abraham pasti membutuhkan waktu untuk mengatur pekerjaan dan para pekerjanya dan butuh waktu juga untuk keluarganya. Pendapat seperti tersebut di atas juga tidak selalu tepat apabila kita bandingkan dengan sifat umum orang-orang kaya. Manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada pada mereka saat itu, termasuk orang kaya. Seberapa banyakpun kekayaan seseorang, sifat untuk senantiasa ingin menambah kekayaan itu tetap ada dan adakalanya tidak peduli dengan tanggung-jawabnya sebagai mahkluk sosial ataupun sebagai umat Allah. Tolong dibaca Markus 10:17-22 dan Lukas 12:13-19. Inilah dasarnya sehingga Yesus berkata ...Alangkah sukarnya bagi orang yang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah! (Markus 10:23).

Nama Abraham begitu dikenal di kalangan orang Yahudi dan mereka bangga menjadi keturunannya dan menjadikan itu sebagai jaminan (Matius 3:9). Itu semua bertitik tolak dari sifat Abraham yang rela berkorban.

Orang Kristen yang adalah keturunan Abraham yang diperintahkan untuk tidak undur dari perhimpunan bersama-sama dalam beribadah kepada Tuhan (Ibrani 10:25). Tetapi kenyataanya ada saja saudara kita yang sengaja meninggalkan perhimpunan karena urusan keluarga, kegiatan sekolah atau pekerjaan umum lainnya. Dengan membaca tindakan Abraham di atas, seandainya dia hidup dalam zaman kita sekarang, menurut Saudara mungkinkah dia meninggalkan perhimpunan karena urusan keluarga, sekolah atau pekerjaan umum lainnya?. Bagaimanakah sikap Yesus terhadap mereka yang berdalih dan tidak rela mengorbankan waktunya untuk mengikut Yesus? Dia membiarkan mereka dalam pilihannya lalu Dia menyuruh hambaNya untuk memanggil orang lain (Lukas 14).

Ingatlah, bahwa Allah yang berkuasa atas waktu dan Dia jugalah yang memberikan waktu itu bagi kita, sebab itu selayaknyalah kita berterimakasih, menghargai dan mengaturnya sebijaksana mungkin sehingga tidak ada yang teralpakan baik untuk diri sendiri terlebih untuk Tuhan.